Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Senin, Desember 29, 2008

Mengkhawatirkan, Netral, atau Berpengharapan?

Hari Selasa besok (30 Desember 2008) adalah kegiatan perkuliahan terakhir (insyaAllah) dalam perkuliahan Perencanaan Pembelajaran Matematika. Untuk itu saya akan menulis tentang salah satu hal yang paling berkesan dalam perkuliahan tersebut.

Mengkhawatirkan, Netral, Berpengharapan ....

Adalah tiga ungkapan yang masing-masing menggambarkan situasi yang berbeda. Tiga ungkapan (yang disandingkan) yang baru saya dengar pertama kalinya dari dosen Perencanaan Pembelajaran Matematika UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) yaitu Dr. Marsigit M.A. Beliau menggunakannya mana kala menemukan istilah/ungkapan yang menunjukkan tingkat/kadar harapan atas aktivitas guru baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi dalam suatu kegiatan pembelajaran. Anda bisa membaca ungkapan-ungkapan tersebut dalam blog beliau Means of Global (http://powermathematics.blogspot.com) tanggal 26 November 2008.

Ungkapan-ungkapan yang menunjukkan dominasi aktivitas guru terhadap siswa, maupun kebiasaan/budaya instan dalam proses pembelajaran, dikelompokkan dalam kategori mengkhawatirkan. Ungkapan-ungkapan yang masih dalam taraf mengkhawatirkan tapi di dalamnya sudah tercermin usaha untuk melibatkan aktivitas dan ada upaya untuk melayani kebutuhan siswa dimasukkan sebagai kategori netral. Sedangkan ungkapan-ungkapan yang mengandung upaya-upaya untuk melibatkan aktivitas, keinginan, dan pelayanan kebutuhan belajar siswa dalam pembelajaran; upaya guru untuk mempersiapkan-melaksanakan-mengevaluasi kegiatan pembelajaran; upaya guru menampilkan matematika sebagai aktivitas sosial atau kegiatan komunikasi yang menyenangkan; upaya guru meningkatkan kualitas dirinya menuju kualitas Kedua; dikategorikan sebagai yang berpengharapan.

Beberapa ungkapan yang dikategorikan sebagai mengkhawatirkan, netral, maupun berpengharapan:

Mengkhawatirkan

Melihat contoh, mengajar, kupas tuntas, mendapat, baik, menjelaskna konsep, berorientasi pada buku teks, berorientasi pada materi/konten, pengajaran langsung, menyampaikan konsep, menyampaikan metode, drill masalah/soal, RPP formal, berpusat pada guru, pengajaran terbimbing, tes, mendominasi, inisiatif guru, metode deduksi, kesimpulan oleh guru, pengajaran ideal, stimulus-respon, ekspositori, metode tunggal, pertanyaan tertutup, transfer ilmu, kurikulum, kurikulum berbasiskan kompetensi, berorientasi pada produk, pendidikan, kebijakan, berorientasi pada sertifikat/ijazah, penentuan nilai, persaingan, eliminasi, menentukan tugas, kata-kata yang dapat dipahami, sombong/angkuh, otoriter, ketergesaan, cara cepat/singkat, hasil secara instan, tidak jujur, tertutup, marah, cemas, mutlak, baik-buruk, dll.

Netral

Aplikasi fase PBM, contoh metode, mendapatkan teknik, mengajar menarik, buku teks, tanam konsep, mendapatkan model, dll.

Berpengharapan

Bagaimana penilaian, LKS, PBM, mengembangkan keterampilan berpikir, mengembangkan hubungan, model aktif reaktif, dapat merencanakan RPP, RPP informal, inisiatif siswa, kebutuhan siswa, lingkungan, tim teaching, LKS, matematika realistik, pemecahan masalah, pendekatan multikultural, kreativitas siswa, membangun konsep, konstruktivisme, problem possing, asesmen, portofolio, memfasilitasi kebutuhan belajar siswa, pembelajaran individual, belajar kelompok, matematika sebagai aktivitas sosial, metode montessori, membangun secara psikologi, pembelajaran berbasiskan permasalahan, metode induktif, kesimpulan oleh siswa, manajemen kelas, pembelajaran kooperatif, motivasi siswa, tutor teman sebaya, metode yang bervariasi, pembelajaran kontekstual, sumber pembelajaran yang bervariasi, asesmen otentik, asesmen berbasis kelas, kurikulum berbasis sekolah, e-learning, TIK (Teknologi Informasi dan Komputerisasi), metode diskusi, pertanyaan terbuka, metode pembelajaran inquiri, aktivitas yang menyenangkan, contoh persoalan matematika dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan berorientasi proses-produk, pembelajaran di luar kelas, pendidikan untuk semua, pendidikan sepanjang hayat,life skill, isu-siu HAM, isu-isu gender, memperbaiki, kolaboratif, realistis, demokratis, keinginan/kehendak, komunikasi, terbuka, bervariasi, fallibism, omnijektif, dll.

Ketiga ungkapan tersebut biasanya beliau tuliskan dengan sebuah garis vertikal sebagai batasannya. Ungkapan-ungkapan yang 'mengkhawatirkan' dituliskan di sebelah kiri garis vertikal, ungkapan-ungkapan 'netral' dituliskan pada garis vertikal, dan ungkapan-ungkapan 'berpengharapan' dituliskan di sebelah kanan garis vertikal. Beruntung saya sempat mendokumentasikannya. Inilah yang pernah beliau tuliskan suatu ketika dalam kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika.

Refleksi Diri:

Mari kita renungkan, selama ini kita berada dalam kategori mana? Mengkhawatirkan, netral, ataukah berpengharapan? Semakin jauh kita dari kategori berpengharapan, maka semakin banyak usaha yang kita butuhkan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran untuk melayani kebutuhan belajar siswa kita, bukan kebutuhan bagi diri kita (guru) yang biasanya disalahkaprahkan dengan pemenuhan tugas pokok semata.

Yang harus kita cemaskan adalah mana kala kita telah merasa 'aman' dengan apa yang telah kita lakukan, merasa selama ini tidak ada masalah, baik-baik saja dan tak perlu ada yang perlu berubah dan dirubah. Jika demikian adanya maka sesungguhnya kita berada dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan, bahkan mungkin membahayakan (!).

4 komentar:

Sairan mengatakan...

Akhirnya selasa tlah berlalu, dan ibu telah mengikuti perkuliahannya. Gimana keaadaan ibu sekarang ? Mengkhafatirkan, netral atau berpengharapan ?

Euis Kurniawati mengatakan...

Inginnya sih jelas yang berpengharapan. Tetapi rupanya jalan yang saya tempuh masih jauh untuk mencapai ke sana. Jadi masih dalam perjalanan, masih berusaha untuk mencapai 'berpengharapan'.

Anonim mengatakan...

Posisi kita ditentukan oleh kondisi kita masing-masing. Pada dasarnya tidak cukup menguasai kecerdasan intelektual saja namun kita perlu berusaha mencapai kecerdasan emosional yang lebih baik berupa pengendalian diri, pengendalian emosi dan pemanfaatannya secara optiman, punya rasa empati dan menjalin hubungan baik. Ditambah dengan penguasan kecerdasan spiritual yang memandang aktivitas kita ini akan selalu bermakna hingga mencapai kecerdasan ruhaniah yang memandang segala kiatan kita ini bermakna ibadah karena Allah SWT semata, sebagai mana yang disampaikan oleh Toto Tasamara. Dengan seperti inilah Insya Allah kita akan selalu mengkondisikan posisi kita pada keadaan "berpengharapan".

Euis Kurniawati mengatakan...

Yup, EBB (Emang bener banget-pen). Seperti yang pak Budi sampaikan itulah inti dari sikap sabar, optimis, dan pantang menyerah yang dibutuhkan bagi seseorang (guru khususnya)untuk selalu berupaya, berpengharapan. Kita sebagai seorang muslim juga harus selalu ingat bahwa 'ajaban lil amril mu'min kullahu lahul khoir ida asobat dhorro sobaro waida asobat sarro syakaro'. Sehingga setiap kendala yang kita hadapi akan dimaknai sebagai suatu ladang amal yang bernilai ibadah dalam kehidupan kita. Amiin