Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Jumat, Januari 02, 2009

USAHA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Antara Teori dan Pengalaman)

Nama : Euis Kurniawati, S.Pd.

NIM : 08301289022

Asal Sekolah : SMP Negeri 2 Binong Kab. Subang


I. PENDAHULUAN

Pembelajaran model lama yang berpusat pada guru (teacher-centered-oriented) sedang mendapat sorotan karena dinilai memiliki banyak kelemahan. Diantaranya karena:

  1. Guru melakukan pengajaran bukan pembelajaran. Guru yang seperti ini tidak mempunyai tujuan lain selain melakukan tugas rutin yang diembannya. Tidak punya keinginan memperbaiki cara mengajar, tidak mau terlibat lebih jauh dalam kegiatan pembelajaran. Ia menganggap tugasnya telah selesai begitu keluar dari kelas.
  2. Berperan sebagai pentransfer pengetahuan. Guru hanya memberikan pengetahuan yang ia anggap penting bukan yang siswa anggap penting. Tidak berupaya menggali dan mendalami hal-hal menarik dari ilmu yang disampaikannya. Akibatnya siswa pun tidak tertarik terhadap matematika. Siswa akan menganggap matematika adalah mata pelajaran yang kering, membosankan, menjenuhkan, dan menegangkan.
  3. Sebagai pemberi perintah/instruksi sedangkan siswa harus menuruti instruksi tersebut tanpa dapat menawar. Guru memberikan contoh soal kemudian memberikan soal latihan yang harus dikerjakan siswa sesuai cara atau contoh tadi. Siswa tidak diberi pilihan untuk mengerjakan atau memecahkan permasalahan dalam soal latihan menurut caranya sendiri. Siswa menjadi peniru, plagiat dan terbiasa berpikir mekanik. Ini membahayakan bagi kualitas jiwa dan membunuh kreativitas berpikir siswa.
  4. Merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya. Guru merasa sebagai satu-satunya orang terpandai di kelas. Ia akan merasa puas jika para siswanya tidak mempu mengerjakan soal dengan cepat, guru seperti ini senang bahkan mendapat kepuasan bathin jika kening para siswanya berkerut, pusing memikirkan cara menyelasaikan soal yang guru berikan. Ia akan menjadi juru selamat dengan membahasnya di depan kelas dan menunjukkan bahwa gurulah yang paling hebat.
  5. Anti kritik terhadap perubahan cara mengajar. Guru merasa terancam dan tersudut jika mendapat pertanyaan terhadap konsep yang telah diberikan kepada siswanya. Disaat guru tidak mampu menjawab pertanyaan siswa, ia akan mengeluarkan jurus pembelaan diri dengan mengatakan bahwa konsep atau cara tersebut sudah ada dari sananya atau dari dahulu, jadi tidak usah dipertanyakan lagi. Guru yang seperti ini juga akan merasa kesal jika mendapat kritik dari guru lain, apalgi yang lebih muda atau junior. Ia merasa sudah lebih berpengalaman dan tidak pernah melakukan kesalahan dalam mengajar.

    Alangkah mengerikannya jika guru seperti diuraikan tadi masih mengajar siswa-siswa di sekolah. Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang pola berpikirnya masih berpusat dan berorientasi pada dirinya (guru). Sebagai akibatnya tentu siswa yang paling dirugikan. Indikatornya terlihat dari:

  • Siswa berperan sebagai obyek yang hanya menerima pengetahuan, tanpa dapat berinteraksi, bereksplorasi terhadap apa yang dipelajarainya.
  • Siswa belajar secara pasif, karena siswa tahu sesulit apa pun soal atau permasalahan yang diberikan guru, akan dibahas juga oleh gurunya.
  • Merasa tidak dihargai. Siswa yang pandai dan kreatif biasanya bisa menemukan cara penyelesaian sendiri, namun apa yang ia lakukan tidak mendapat penghargaan atau pujian yang dapat memacu kreativitasnya tersebut.
  • Tidak punya inisiatif belajar sendiri. Jika guru terus menerus menggunakan model belajar yang sama akan menimbulkan kebosanan, siswa jenuh disuguhi cara mengajar yang itu-itu juga. Akibatnya siswa menjadi malas untuk belajar.
  • Siswa menjadi insan yang tidak kreatif. Kreativitas yang tidak mendapat penghargaan yang semestinya akan hilang dan mati.
  • Siswa tidak terbiasa menerima perbedaan pendapat. Mereka terbiasa menerima pendapat yang sama dengan gurunya, perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman dan halangan dalam pencapaian tujuan.
  • Siswa menjadi plagiator, terbiasa mencontek jawaban.
  • Siswa tidak berani mengemukakan ide dan pendapatnya.
  • Siswa tidak terbiasa mengambil resiko terhadap pilihan atau solusi permasalahan yang ada, ia hanya menunggu solusi yang berasal dari gurunya.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sangat perlu kiranya bagi para guru untuk mengupayakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah langkah yang harus dilakukan guru agar pembelajaran di kelasnya berpusat pada siswa bukan pada gurunya?
  2. Bagaimanakah caranya agar siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika?


II. KAJIAN TEORI

Untuk menggugah kesadaran guru bahwa pusat pembelajaran adalah siswa bukan dirinya, diantaranya dengan menguasai beberapa hal berikut:

Lima karakteristik kompetensi menurut Spencer dan Spencer (Hamzah B. Uno, 2007: 63), yaitu motif, sifat, konsep diir, pengetahuan, dan keterampilan.

  1. Motif, yaitu sesuatu yang orang pikirkan dan inginkan yang menyebabkan sesuatu.

    Guru harus menyadari motifnya dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Untuk tujuan apa ia melakukan kegiatan pembelajaran? Apakah sekedar memenuhi tugas rutin semata, ataukah untuk memberikan pelayanan (dalam hal ilmu) yang terbaik menurut kebutuhan belajar para siswanya?

  2. Sifat, yaitu karakteristik fisik tanggapan konsisten terhadap situasi atau informasi. Contohnya: penglihatan yang baik adalah kompetensi sifat fisik bagi seorang pilot. Begitu halnya dengan kontrol diri, emosional dan inisiatif adalah lebih kompleks dalam merespon situasi secara konsisten. Kompetensi sifat ini pun sangat dibutuhkan dalam memecahkan masalah dan melaksanakan panggilan tugas sebagai seorang guru.
  3. Konsep diri, yaitu sikap, nlai, dan image diri seseorang. Contohnya kepercayaan diri. Kepercayaan atau keyakinan diri seseorang agar dia menjadi efektif dalam semua situasi adalah bagian dari konsep dri. Guru harus merasa percaya pada dirinya sendiri dilandasi dengan usaha dan kemauan belajar yang terus-menerus bahwa ia dapat memberikan dan melakukan yang terbaik untuk kegiatan pembelajaran bagi para siswanya.
  4. Pengetahuan, yaitu informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu. Hal ini mutlak dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru. Guru masa kini dituntut untuk tahu lebih cepat dari para siswanya agar tidak tertinggal ilmu dan informasi mengingat kini siswa dapat mencari informasi apa pun di internet dalam hitungan detik.
  5. Keterampilan, yaitu kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan fisik dan mental. Contoh kemampuan fisik misalnya keterampilan membuat dan menggunakan alat peraga. Sedangkan kemampuan berpikir analitis dan konseptual adalah berkaitan dengan kemampuan mental atau kognitif guru.

Memiliki ciri guru profesional (Hamzah B. Uno, 2007:64), yaitu menguasai:

  • Disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran.
  • Bahan ajar yang diajarkan.
  • Pengetahuan tentang karakteristik siswa.
  • Pengetahuan tentang filasafat dan tujuan pendidikan.
  • Pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar.
  • Penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran.
  • Pengetahun terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, meimpin, guna kelancaran proses pendidikan.

Meningkatkan tingkat komitmennya terhadap profesi.

Guru yang rendah tingkat komitmennya dapat dilihat dari beberapa hal berikut, misalnya:

  • Perhatian yang disisihkan untuk memperhatikan siswanya hanya sedikit.
  • Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya hanya sedikit.
  • Perhatiannya hanya pada jabatan atau kenaikan gaji dan golongan/pangkatnya saja.

    Sedangkan guru yang tingkat komitmennya tinggi ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut, diantaranya:

  • Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi.
  • Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya banyak. Bahkan tak segan mengeluarkan biaya tambahan namun masih dalam batas-batas kewajaran.
  • Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain, terutama para siswanya.

Meningkatkan kemampuannya menggunakan nalar.

Tingkat abstraksi atau kemampuan menggunakan nalar sangat penting dalam melaksanakan tugas-tugas keguruan. Harvey, Hunt, joice, dan Glickman (Hamzah B. Uno, 2007: 66) melalui berbagai studi menemukan bahwa guru dengan tingkatan kognitifnya tinggi, akan cenderung berpikir abstrak, imagunatif, kreatif, dan demokratis. Guru seperti ini akan lebih fleksibel dalam melaksanakan tugas, bahkan memiliki hubungan yang baik dengan siswa dan teman sejawatnya. Guru-guru yang tingkatan nalarnya tinggi dapat melihat berbagai kemungkinan dan mampu mencari berbagai alternatif model mengajar sehingga mereka umumnaya konsekuen dan efektif dalam mengahdapi siswa. Dengan model kompetensi menggunakan nalar ini guru bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Sebaliknya apabila tingkatan nalarnya rendah, guru hanya mampu menemukan salah satu alternatif saja. Akibatnya, guru merasa bingung ketika menghadapi masalah-masalah dalam keals dan tidak mampu berbuat banyak. Oleh karena itu mereka cenderung meminta petunjuk dalam melaksanakan tugasnya. Kompetensi menggunakan nalar dapat dilukiskan sebagai berikut (Gambar 1).


Gambar 1. Paradigma Kategori Guru (Hamzah B. Uno, 2007: 66)


Adapun pendapat-pendapat para ahli di bidang pendidikan yang memuat berbagai cara dan upaya efektif agar siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika diantaranya:

Menurut Robert E. Slavin (2008: 250), ada empat unsur utama dalam metode-metode pembelajaran kooperatif yang dianggap sebagai kunci keberhasilan mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:

1. Interaksi tatap muka: para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang.

2. Interdependensi positif: para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok.

3. Tanggung jawab individual: para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materi pelajaran.

4. Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil: para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka.

Beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif, diantaranya:

  • STAD (Student Tems-Schievement Divisions)
  • TGT (Tim-Game-Turnament)
  • TAI (Team-Assisted Individualization)
  • CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
  • GI (Group Investigation)
  • Co-op Co-op
  • Jigsaw
  • Jigsaw II
  • CI (Complex Instruction)

Penelitian mengenai metode-metode pembelajaran ini telah menemukan bahwa bentuk penghargaan yang diberikan kepada kelompok didasarkan pada pembelajaran individual semua anggota kelompok dapat meningkatkan pencapaian siswa lebih dari metode-metode individualistik dan memiliki pengaruh positif pada hasil yang diperoleh berupa hubungan sosial siswa daintaranya penerimaan kelompok terhadap kekurangan dan kelebihan anggota kelompok baik secara fisik maupun kemampuan belajarnya.


Menurut John A.Van de Walle (2008: 14, 31, 35) keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika dapat diupayakan dengan:

Memahami hal yang paling mendasar dalam matematika yaitu bahwa matematika dapat dipahami atau masuk akal.

  • Setiap hari siswa harus mendapatkan pengalaman bahwa matematika masuk akal.
  • Para siswa harus percaya bahwa mereka mampu memahami matematika.
  • Para guru harus menghentikan cara mengajar dengan memberitahu segalanya kepada siswa dan harus mulai memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami matematika yang sedang mereka pelajari.
  • Akhirnya, para guru harus percaya kepada kemampuan para siswa.

Membudayakan kelas matematika yang produktif

Ciri-ciri budaya kelas matematika yang produktif adalah:

  • Ide-ide adalah penting, tidak perduli milik siapa ide tersebut. Para siswa dapat memiliki ide-ide mereka sendiri dan membaginya dengan yang lain.
  • Ide-ide harus dipahami bersama-sama di dalam kelas. Setiap siswa harus menghargai ide-ide dari temannya dan mencoba memiliki dan memahaminya.
  • Kepercayaan harus dibangun dengan pemikiran bahwa membuat kesalahan tidak menjadi soal. Para siswa harus menyadari bahwa kesalahan adalah kesempatan untuk berkembang.

Pengembangan Pengajaran/Pembelajaranyang efektif,diantaranya dengan:

  • Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan pemahaman mereka.
  • Pengetahuan dan pemahaman adalah unik bagi setiap siswa.
  • Berpikir reflektif adalah unsur yang paling penting untuk belajar secara efektif.
  • Lingungan sosial budaya berpengaruh terhadap peningkatan perkembangan ide matematika siswa.
  • Model-model untuk ide-ide matematika membantu siswa mengungkapkan dan memperbincangkan ide-ide matematika.
  • Pembelajaran yang efektif merupakan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.


Menurut Richard I. Arends (2008: 108-138).

Menggunakan multimodel pembelajaran.

Menggunakan multimodel pembelajaran berarti bahwa guru mengambil beberapa model dari repertoar mengajarnya dan memilih berbagai pendekatan yang berbeda tergantung tujuan pembelajarannya. Hal itu berarti bahwa guru mampu menghubungkan dan menggunakan berbagai model yang berbeda secara terpadu selama kegiatan pembelajaran.

Dasar pemikiran untuk menghubungkan dan menggunakan berbagai model pengajaran ini berasal dari adanya keinginan untuk mencapai pembelajaran yang efektif dengan perbedaan individual siswa dalam hal kemampuan, intelegensi, dan perkembangan kognitifnya.

Dasar pemikiran lainnya adalah bahwa sampai saat ini tidak ada pendekatan maupun model pembelajarn tunggal yang secara konsisten lebih baik dari yang lainnya. Pilihan untuk menggunakan pendekatan atau model pembelajaran tertentu dan bukan yang lain bergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin diraih, dan kebutuhan akan keragaman berdasarkan karakteristik siswanya. Hal ini berarti bahwa guru harus siap menerapkan multimodel pembelajaran dan menghubungkanny model-model itu secara kratif selama proses pembelajaran berlangsung.

Mendiferensiasikan pembelajaran.

Pada pembelajaran secara tradisional, guru mengajarkan materi pembelajaran yang sama, dengan cara yang sama, untuk semua siswa. Akan tetapi, di kelas yang didiferensiasikan, guru berusaha memulai pengajaran berdasarkan minat, kebutuhan, kesiapan (di mana posisi siswa) siswa dan kemudian menggunakan banyak model mengajar dan penataan instruksional untuk memastikan bahwa siswa meraih potensinya.

Elemen-elemen diferensiasi:

  • Guru memfokuskan pada hal-hal yang esensial.
  • Guru memperhatikan perbedaan-perbedaan siswa.
  • Guru melihat asesmen dan pengajaran sebagai hal yang tak dapat dipisahkan, siswa diases dengan banyak cara.
  • Seluruh siswa berpartisipasi dalam pekerjaan terhormat.
  • Guru dan siswa berkolaborasi dalam pembelajaran.
  • Guru menyeimbangkan antara norma-norma kelompok dan individual.
  • Guru dan siswa bekerja bersama-sama secara fleksibel.
  • Guru memodifikasi isi, proses, dan produk.

    III. USAHA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN PENGALAMAN

Guru tidak akan mampu melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas manakala ia belum menyadari siapa sebetulnya yang berperan sebagai subyek dalam pembelajaran tersebut. Oleh karenanya langkah utama dan sangat mendesak untuk dilakukan oleh guru adalah:

  1. Menumbuhkan kesadaran dirinya bahwa:
  • apa yang telah ia lakukan selama ini yang mungkin tanpa disadarinya telah mendzhalimi siswa-siswanya. Guru tidak sadar bahwa potensi dan krativitas siswa terhalang bahkan terkurung oleh aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran yang terlalu mendominasi dan tidak memberi banyak kesempatan bagi siswa mengekspresikan, mengapresiasi dan mengeksplorasi matematika, konsep matematika dan pembelajaran matematika.
  • Siswa adalah insan yang unik, tidak sama satu dengan lainnya. Siswa mempunyai potensi dan kemauan yang berbeda-beda. Apa yang telah dilakukan selama ini salah, yaitu menyamaratakan perlakuan dan pelayanan dalam kegiatan pembelajaran pada manusia-manusia yang unik.
  • Ia adalah 'Guru'. Guru adalah sosok yang seharusnya digugu dan ditiru. Itu berlaku dua atau tiga dekade lampau. Dalam artian sosok guru sebagai satu-satunya sumber dan pedoman siswa dalam belajar. Akibat negatif dari anggapan ini adalah sikap guru yang sombong, anti terhadap kritik dan saran yang bermanfaat, merasa diri paling pintar di kelas atau di sekolah sehingga tidak mau belajar hal-hal atau ilmu pengetahuan yang terus berkembang dalam hitungan detik. Dengan kata lain guru merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya.

    Guru seharusnya selalu merasa haus akan ilmu dan informasi baru yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan bidang ilmu yang diajarkannya. Selalu ingin tahu kemajuan apa yang diperoleh guru lain di tempat lain, agar ia tidak berjalan di tempat namun senantiasa maju bersama dengan para siswanya.

    Yang paling penting, guru seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi dan peka terhadap kebutuhan belajar para siswanya. Selalu ingin tahu penyebab ketidak berhasilan pembelajaran di kelasnya.

  • Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Tujuan pembelajaran yang sejatinya adalah bagaimana caranya agar jiwa yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran seperti keuletan, ketekunan, sifat pantang menyerah, kemampuan mengkomunikasikan ide dan gagasan, kemampuan berpikir kritis dan logis dapat terserap dalam prilaku keseharian siswa. Sebagai bekal dalam menghadapi masalah kehidupan yang sebenarnya.
  1. Menumbuhkan kepedulian dan kemauan untuk mendengar, melihat, dan merasakan apa yang dialami oleh para siwanya selama ini. Guru harus mencoba sekali saja, mengandaikan ia yang berada dalam posisi siswa. Setiap hari disuguhi gaya, cara dan model mengajar yang itu-itu juga. Aktivitas siswa terbatas pada mencatat konsep, rumus-rumus atau rangkuman materi dan contoh soal, kemudian mengerjakan soal latihan dan menerima sejumlah soal sebagai pekerjaan rumah. Lama-lama siswa merasa seperti robot yang sudah diberi program, tidak mampu berpikir kritis dan kreatif.
  2. Menyadari hakekat pembelajaran matematika yang sebenarnya. Dalam salah satu pertemuan kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika, Dr. Marsigit M.A. mengutip pendapat Ebutt & Straker (1995) bahwa hakekat matematika (sekolah) adalah:
  • Kegiatan mencari pola dan hubungan
  • Kegiatan pemecahan masalah
  • Kegiatan penelitian (investigasi)
  • Alat untuk berkomunikasi

Jika kita cermati keempat hakekat pembelajaran matematika tersebut dapat tercapai dalam suatu bentuk kegiatan atau aktivitas. Tentunya bukan aktivitas guru melainkan aktivitas siswa yang dibantu, difasilitasi, dan dilayani kebutuhan belajarnya oleh guru. Jadi kegiatan dalam pembelajaran matematika bukan semata-mata mengerjakan soal kemudian jika sebagian siswa telah mampu menjawabnya guru merasa telah usailah tugasnya dalam melaksanakan pembelajaran matematika.

  1. Mau berubah ke arah yang lebih baik. Kesadaran tanpa dibarengi oleh kemauan untuk berubah adalah mimpi di siang hari. Kemauan tanpa diiringi tindakan nyata juga hanya hayalan belaka. Oleh karenanya, marilah bersama-sama guru-guru matematika di mana pun kita mulai perubahan itu.
  2. Mencanangkan dalam dirinya untuk dapat mencapai kualitas Kedua dalam Matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika.
  3. Bersemangat dan bersabar dalam perubahan. Singkirkan budaya instan. Perubahan positif dalam hal ini mengubah orientasi pembelajaran dari berorientasi pada guru (teacher-oriented) menjadi berorientasi pada siswa (student-oriented) bukan hal mudah yang dapat dicapai dalam waktu satu atau dua tahun. Mungkin dibutuhkan waktu puluhan belasan bahkan puluhan tahun baru dapat tercapai.
  4. Konsisten/istiqomah dalam tekad dan usahanya. Dalam artian terus berupaya mencari cara-cara dan terobosan-terobosan baru yang inovatif. Salah satu upayanya dengan terus mengupdate ilmu pengetahuan dan informasi seputar matematika, model-model pembelajaran, minat-minat siswa terhadap topik-topik matematika, dan paradigma-paradigma baru dalam pembelajaran matematika.
  5. Membentuk dan memberdayakan komunitas guru matematika yang dapat bekerja sama untuk menuju perubahan secara global. Bersama-sama lebih baik dari pada sendirian. Dengan terbentuknya komunitas-komunitas guru matematika yang peduli dan mau melakukan sesuatu yang berguna (sekecil apa pun itu) untuk kemajuan dunia pendidikan, kegiatan pembelajaran di sekolah dan terutama memajukan para siswanya, maka diharapkan perubahan paradigma orientasi pembelajaran dapat dicapai dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan. Wujudnya dapat memberdayakan komunitas guru yang sudah ada misalkan MGMP tingkat sekolah, kecamatan, maupun kabupaten.

Setelah timbul, tumbuh dan berkembangnya kesadaran diiringi dengan langkah nyata untuk berubah menuju kualitas Kedua, selanjutnya guru melakukan berbagai inovasi dan kreasi untuk memposisikan siswa di tempat yang semestinya yaitu sebagai subyek pembelajaran, sebagai pusat dan orientasi dalam pembelajaran matematika. Manakala siswa sudah merasa dirinya sebagai subyek, pusat dan orientasi dalam kegiatan pembelajaran di kelasnya, mereka tidak akan pasif tapi menjadi berperan aktif untuk bersama-sama mencapai tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan guru dalam melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika, diantaranya:

a. Tahap Persiapan:

Merancang dan menyusun sumber belajar yang tepat, efektif dan efisien disesuaikan dengan minat, kondisi, potensi dan karakteristik heterogen para siswanya. Dalam hal ini guru harus berupaya mencari berbagai referensi baik berupa buku, jurnal, media massa, media elektronik, dan internet.

Merancang dan menyusun LKS (Lembar Kerja Siswa). Menurut Dr. Marsigit M.A. dalam blognya (http://www.powermathematics.blogspot.com) LKS tidak hanya merupakan kumpulan soal tetapi dapat merupakan sumber informasi, teori atau penemuan terbimbing. LKS juga tidak harus selalu satu macam, tetapi dapat dikembangkan banyak ragam dalam satu kali pertemuan.

Menyusun dan membuat alat peraga yang murah, mudah digunakan, praktis dan bahan-bahan pembuatnya mudah diperoleh di sekitar lingkungan siswa. Contoh: dalam pembelajaran bilangan bulat dapat digunakan alat peraga berupa kartu domino bilangan bulat, permainan ular tangga bilangan bulat, kaos dua warna, kelereng dua warna, manik-manik dua warna atau dengan menggunakan kedua tangan siswa sendiri (Jari Hitam Putih - penulis).

Memilih dan menentukan skema pembelajaran yang sesuai dengan minat, kondisi, potensi dan karakteristik heterogen para siswanya.

Memilih model pembelajaran yang variatif seperti model pembelajaran kooperatif, CTL (Contextual Teaching Learning), PBL (Problem Bassed Learning), RME (Realistic Mathematics Education), Open-ended, dan sebagainya. Guru harus memiliki pengetahuan dan kemampuan mengaplikasikan model-model pembelajaran yang dipilihnya. Di sini guru harus pandai dan cermat serta tanggap terhadap kondisi di kelas, harus dapat cepat mengantisipasi kemungkinan model pembelajaran yang dipilihnya tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Guru harus mampu mencari solusi dengan tidak ngotot menggunakan satu model pembelajaran saja. Karena model pembelajaran yang terbaik bagi siswa adalah yang paling akomodatif terhadap kebutuhan belajar siswa.

Merancang dan mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau Lesson Plan yang tepat dan sesuai. Guru dan siswa dapat bersama-sama merancang dan memilih komponen-komponen dalam RPP disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan belajar siswa, misalnya dalam penentuan dan pemilihan media pembelajaran, alat peraga, model pembelajaran dan jenis penilaian.

Langkah/strategi dalam menyiapkan RPP adalah:

  • Menentukan materi pembelajaran yang akan disiapkan RPPnya.
  • Menentukan standar kompetensi pembelajaran.
  • Menentukan kompetensi dasar.
  • Menentukan indikator.
  • Menentukan tujuan pembelajaran.
  • Menentukan kemampuan prasyarat.
  • Menyiapkan materi pelajaran yang akan dibahas.
  • Menentukan pendekatan dan metode pembelajaran.
  • Merancang dan menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
  • Memilih sumber belajar yang relevan dan sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran.
  • Menentukan kriteria dan acuan penilaian/evaluasi.
  • Membuat instrumen yang sesuai dengan kriteria penilaian/evaluasi.

Melakukan kegiatan assesment yang sesuai dengan kondisi dan potensi siswa. Assesment biasanya diartikan sebagai penilaian. Sesungguhnya yang dimaksud assesment atau penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah tindakan yang telah dikerjakan sebelumnya cukup berharga atau tidak (Direktorat PLP, 2004: 5). Jadi pada dasarnya yang dinilai itu adalah program, yaitu suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian tujuan dari kegiatan tersebut. Aspek yang dinilai ada dua yaitu tingkat keberhasilan dan tingkat efisiensi pelaksanaan program pembelajaran.

Guru bersama-sama siswa memilih dan menentukan metode dan teknik assesment, diantaranya:

  • Penilaian tertulis (paper-pencil) baik soal pilihan ganda maupun uraian.
  • Tes praktek (performance test).
  • Penilaian produk.
  • Penilaian proyek.
  • Peta perkembangan, penilaian diri siswa.
  • Penilaian afektif.
  • Penilaian portofolio.

b. Tahap Pelaksanaan

  • Guru berperan sebagai pelayan dan fasilitator tapi tidak mendominasi kegiatan pembelajaran.
  • Guru memantau kegiatan pembelajaran, melihat proses pembelajaran.
  • Guru memberi penjelasan jika siswa membutuhkan. Hal ini penting dilakukan agar siswa terbiasa menjadi siswa otonom yang mandiri tanpa harus selalu meminta bimbingan dan bantuan guru.
  • Guru memberi penghargaan atau pujian bagi siswa atau kelompok yang telah melakukan tugas-tugasnya dengan baik.
  • Guru mengatur ritme atau durasi waktu pembelajaran, tetapi jika diperlukan dapat memberi toleransi waktu sesuai dengan kebutuhan selama kegiatan pembelajaran.
  • Guru memberi kesempatan siswa untuk mempresentasikan hasil karya individu atau karya kelompok di depan teman-temannya agar memiliki mental berani mengemukakan pendapat di depan umum, berani menerima kritik dan saran.
  • Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau kelompok yang berani tampil.

c. Tahap Evaluasi

  • Siswa menentukan penilaian terhadap siswa dan kelompok lainnya, dilakukan secara silang. Masing-masing siswa menilai siswa atau kelompok lain.
  • Guru memiliki penilaian tersendiri yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk penilaian pada akhir kegiatan pembelajaran.
  • Guru membuat catatan-catatan penting yang berisi hal-hal penting seperti kejadian-kejadian lucu, aneh atau hal-hal menarik selama pembelajaran berlangsung.
  • Guru mencatat pertanyaan, komentar-komentar siswa berkenaan dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan.

d. Refleksi

  • Guru meminta pendapat, kesan atau komentar terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Jika siswa belum terbiasa bersikap terbuka, guru dapat melakukannya dalam bentuk angket sederhana yang diisi oleh siswa tanpa disertai identitas siswa.
  • Guru dan siswa bersama-sama mengevaluasi kelemahan dan kelebihan dari kegiatan yang telah dilaksanakan.
  • Guru membacakan catatan-catatan yang telah dibuatnya disertai komentar yang menarik diselingi humor, menjawab pertanyaan yang belum tuntas terjawab, atau bahkan memberikan umpan pertanyaan agar pemahaman siswa terhadap kegiatan yang telah dilakukan lebih baik lagi, di hadapan para siswanya untuk menciptakan keakraban dan rasa kebersamaan antara guru dan siswa.
  • Guru bersama-sama siswa, berdasarkan hasil evaluasi kegiatan yang telah dilakukan, menyusun dan merancang kegiatan pembelajaran pada pertemuan atau topik berikutnya.


IV. PENUTUP

Sungguh bukan suatu pekerjaan mudah untuk menjadi seorang guru matematika yang dapat memahami keinginan, minat dan kebutuhan siswa yng sangat heterogen. Dengan orientasi pembelajaran yang telah terbiasa berpusat pada guru, membuat guru terlena, merasa diri paling hebat, paling pintar terutama di hadapan murid-muridnya. Sementara bukan perkara mudah juga merubah kebiasaan yang mungkin (hampir) mengendap dalam jiwa seorang guru.

Kendala lain adalah adanya image buruk bagi seorang guru matematika yang digambarkan sebagai sosok bagaikan seorang hakim yang akan membacakan vonis bagi terdakwa. Ruang kelas bagi siswa tak ubahnya ruang sidang di mana mereka harus mau maju ke depan mengerjakan perintah gurunya, menjawab pertanyaan yang jika salah akan menjadi hal yang memalukan bagi siswa di hadapan teman-temannya. Lantas apakah guru harus pandai melawak untuk menghilangkan image tersebut? Tentu tidak, masih banyak cara yang lebih cerdas untuk dapat merubah image buruk guru matematika di hadapan siswa tanpa harus merubah pribadi guru jadi pelawak. Misalnya dengan membina hubungan keterbukaan berupa dialog dengan siswa. Penampilan guru yang santai, murah senyum, tidak mudah marah, mau menerima kekhasan, keunikan prilaku siswa yang notabenenya adalah para remaja yang ingin diterima apa adanya. Namun guru tetap menjaga wibawa dan berlaku adil serta memberi suri tauladan yang baik bagi siswa.

Kesulitan, kendala dan penghalang dalam merubah paradigma belajar lama yang berorientasi pada guru (teacher-oriented) menjadi berorientasi pada siswa (student-oriented) tadi dapat kita upayakan untuk dapat diatasi dengan menumbuhkan kesadaran para guru matematika akan kesalahan orientasi pada kegiatan pembelajaran di kelasnya, menyadari keunikan dan kekhasan para siswanya, peduli pada kebutuhan belajar siswa, menyadari tujuan pembelajaran matematika yang sesungguhnya, mempunyai kemauan untuk berubah, memulai perubahan tersebut dimulai secara individu kemudian bersama-sama dengan guru-guru lain, serta senantiasa meningkatkan kemampuan pedagogik, profesional, sosial dan personal.

Selanjutnya yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana upaya guru dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi usaha-usahanya dalam melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika. Tahap persiapan tercermin dari sejauh mana upaya yang dilakukan guru secara sungguh-sungguh untuk mempersiapkan:
1. Sumber Belajar
2. LKS (Lembar Kerja Siswa)
3. Alat Peraga
4. Skema Pembelajaran
5. RPP
6. Kegiatam Asesmen

Sebagai upaya guru untuk merubah image buruk guru matematika dan upaya memberi rasa nyaman, aman dan menyenangkan bagi siswa, guru sebaiknya berupaya melakukan evaluasi dan refleksi berupa dialog bersama siswa baik mengenai assesment, maupun kesan dan komentarnya terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.Akhirnya, diharapkan guru dan siswa dapat bekerja sama, berkolaborasi dalam merancang, memilih kegiatan pembelajaran yang diinginkan yang dapat mengakomodasi potensi dan kebutuhan belajar siswa yang beragam.

Semoga upaya yang kita lakukan bersama dapat menjadi satu langkah maju untuk mencapai kualitas Kedua dalam matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika. Amiin.


V. DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard I. 2008. Learning To Teach (Belajar untuk Mengajar). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika: Hakikat Penilaian. Jakarta: Direktorat PLP.

Marsigit. 2008. Perencanaan Pembelajaran Matematika. http://www.powermathematics.blogspot.com. [Diakses tanggal: 26 Nopember 2008].

Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Lerning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Van de Walle, John A. 2008. Pengembangan Pengajaran Matematika Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Erlangga.

10 komentar:

Dr. Marsigit, M.A mengatakan...

I think your work is great (Dosen: Dr. Marsigit)

Euis Kurniawati mengatakan...

Thanks a lot for your comment, Sir. But, for the last task (Lesson Plan in second quality), i've not yet finished. There're some parts in my head, it's like a fuzzle. I need more time to write this topic.

Dr. Marsigit M.A. mengatakan...

Saya berikan apresiasi yang tinggi kepada Ibu Euis atas ketekunan mengembangkan Blog, dan juga kepada Bapak/Ibu yang lain tentang hal yang sama. Selamat ujian semoga sukses semuanya. Amien (Dosen: Dr. Marsigit)

Euis Kurniawati mengatakan...

Terima kasih banyak atas apresiasi yang telah Bapak berikan. Semoga saya dapat terus mempertahankan bahkan meningkatkan upaya 'belajar' dan membelajarkan diri melalui blog.
O ya Pak, ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Saya (kami) berharap, sudikah kiranya Bapak tetap (sesekali)berkunjung ke blog kami meskipun kami bukan mahasiswa Bapak lagi? Semoga komunikasi yang bermanfaat dan tali silaturahim diantara kita tetap terjalin. Amiin.

Dr. Marsigit, M.A mengatakan...

Harapan saya bahkan lebih dari itu, maksud saya kita termasuk Bapak dan Ibu yang lainnya masih tetap berkomkunikasi untuk sharing pengalaman pembelajaran masing-masing. Never ending effort, kira-kira begitulah (Dosen: Dr. Marsigit)

Euis Kurniawati mengatakan...

Ok, siip kalau begitu Pak. Terima kasih atas kesediaan Bapak untuk tetap menjalin komunikasi dengan kami.
Ayo teman-teman, kita tetap semangat ya untuk tetap sharing pengalaman dalam pembelajaran matematika seperti yang kita dan Pak Marsigit harapkan.

IWAN SUMANTRI mengatakan...

Menarik dan bermanfaat tulisannya, ajakan ibu saya suport, mari kita tetap jalin komunikasi lewat blog ini jangan terputus begitu aja, inilah sarana dan salah satu media pembelajaran inovatif!

Euis Kurniawati mengatakan...

Terima kasih Pak Iwan atas suportnya. Mudah-mudahan kita semua tetap bersemangat untuk memulai perubahan ke arah yang lebih baik (kualitas Kedua). Amiin.

Budiharjono mengatakan...

Tulisan ibu cukup lengkap dan dibutuhkan sebagai bahan kajian untuk bisa diperhatikan dan dilaksanakan oleh guru-guru dalam KBM. Sukses selalu buat B Euis untuk terus berkreasi di Blog.

Euis Kurniawati mengatakan...

Terima kasih Pak Budi atas komentarnya, semoga kreasi dan kreativitas kita tidak hanya tercurah dalam blog. Yang lebih utama adalah tindakan nyata dalam keseharian kita (kegiatan pembelajaran). Sama-sama, sukses juga buat Pak Budi.