Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Minggu, Januari 11, 2009

Final Reflection:

Kualitas Kedua dalam RPP pada Skema Pencapaian Kompetensi 'is never ending effort'

Pada perkuliahan terakhir hari Rabu (31 Desember 2008) sampailah kami pada suatu kesimpulan akhir tentang materi kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika (PPM). Ternyata apa yang kami harapkan selama ini dari kuliah PPM yaitu berupa 'produk' RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau Lesson Plan) yang kami bayangkan, yang baku, baik dan benar (adakah?) sesuai kebutuhan di sekolah, yang siap pakai (siap difoto copy oleh rekan-rekan di sekolah/daerah) terhempaskan sedalam-dalamnya ke dasar jurang pemikiran kami yang masih dalam kategori 'mengkhawatirkan'.

RPP yang kami harapkan tersebut adalah RPP Formal, RPP kualitas Pertama. RPP yang hanya menampakkan alur proses pembelajaran, yang bisa diperoleh dari contoh yang sudah ada, bahkan kami bisa saja mencarinya di internet.

Senyatanya, RPP yang beliau (Dr. Marsigit M.A.) maksudkan, yang beliau harapkan agar kami pahami, adalah RPP dalam ranah kualitas Kedua.

Dengan segala keterbatasan saya dalam memahami dan memaknai RPP dalam kualitas Kedua, saya mencoba untuk menuangkannya sebagai suatu wujud permulaan pemahaman yang saya miliki, tentu saja jauh dari sempurna.

Apa yang dimaksud dengan RPP?

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) adalah seperangkat persiapan yang dilakukan oleh guru meliputi skenario sebelum, selama, dan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Sedangkan menurut Dr. Marsigit M.A., RPP pada dasarnya merefleksikan aktivitas yang terjalin antara siswa dan guru.

Perbedaan nyata antara kegiatan pembelajaran di Indonesia dengan negara lain adalah terletak pada 'persiapan'. Contohnya persiapan (RPP) yang digunakan di negara Jepang berisi tentang hal-hal yang akan dikerjakan oleh siswa. Sedangkan RPP yang digunakan di Indonesia berisi hal-hal yang akan dikerjakan oleh guru. RPP yang biasanya disusun oleh guru di Indonesia, kebanyakan berupa RPP legal formal yang dipergunakan untuk kepentingan karir atau dinas semata belum menyentuh hakikat RPP yang sebenarnya (Nature Leson Plan).

RPP dapat ditinjau dari berbagai skema, diantaranya: Struktur Pembelajaran (Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Penutup), Skema Pencapaian Kompetensi (Will, Attitude, Knowledge, Skill, dan Experience), Skema Interaksi (Klasikal, Kelompok dan Individua), Skema Variasi Metode (Induksi-Deduksi) Skema Variasi Media atau alat bantu pembelajaran (LKS dan Alat Peraga) dan Skema Variasi Sumber Belajar (Buku Teks, Internet atau Blog dan ICT).

Kualitas Kedua dalam RPP

Kualitas Kedua dalam RPP pada Skema Pencapaian Kompetensi (Will, Attitude, Knowledge, Skill, dan Experience) dapat dipandang sebagai suatu cara dalam memaknai RPP berdasarkan hakikat kompetensi yang ingin dicapai dan ditampilkan dalam RPP.

1. Will: Kemauan, Kehendak (Senang, gembira)

Bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam merancang suatu RPP yang dapat mengeksplorasi dan membangkitkan kemauan atau kehendak siswa untuk belajar dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran secara menyenangkan dan dengan perasaan gembira, jauh dari rasa was-was, cemas, bahkan takut. Bagaimana upaya guru dalam membawa dunia matematika ke dunia anak (siswa). Contohnya: menghargai bahasa ibu dalam pembelajaran matematika (selawe = 25; selangkung = 50).

2. Attitude: Sikap, Pendirian (Sabar, tepat waktu)

Bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam merancang suatu RPP yang dapat menghidupkan 'ruh' pembelajaran matematika dalam diri anak yaitu berupa keuletan, ketekunan, sifat pantang menyerah, kemampuan mengkomunikasikan ide dan gagasan, kemampuan berpikir kritis dan logis, serta kemampuan mencari solusi dari suatu permasalahan. Sehingga melahirkan suatu sikap atau pendirian yang positif bagi siswa misalnya berupa sifat sabar, tekun, serta tepat waktu (disiplin).

3. Knowledge: Pengetahuan (Mengetahui)

Bagaimana upaya guru dalam merancang suatu RPP yang dapat menumbuhkan kesadaran pada diri siswa agar mereka 'mengetahui' eksistensi mereka dalam dunia matematika, pembelajaran matematika dan pendidikan matematika. Bagaimana upaya guru membangkitkan kesadaran siswa akan pentingnya membangun pengetahuan (khususnya matematika) mereka sendiri dengan potensi, cara, dan keunikan mereka masing-masing.

4. Skill: Keterampilan (Terampil)

Bagaimana upaya guru dalam merancang suatu RPP yang dapat mengasah potensi siswa dalam hal keterampilan mengemukakan ide/gagasan; keterampilan memilih solusi dari permasalahan matematika; keterampilan menyanggah, menjawab, membuktikan suatu hipotesa; keterampilan menggunakan dan menyusun alat peraga; dan sebagainya. Inti dari semuanya itu adalah agar siswa terampil menggunakan potensi keunikan mereka untuk menghadapi dan mencari solusi (secara cerdas) bagi permasalahan dalam pembelajaran matematika. Sehingga matematika tidak lagi menjadi mata pelajaran yang menakutkan dan membosankan bagi siswa.

5. Experience: Pengalaman (Kebermaknaan)

Bukankah pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik? Maka sangatlah diperlukakan upaya guru dalam merancang suatu RPP yang dapat menjadikan kegiatan pembelajaran matematika sebagai suatu pengalaman penting, berkesan dan berharga bagi siswa. Pengalaman akan dirasakan penting, berkesan dan berharga bagi seseorang jika ada makna yang mendalam dari pengalaman tersebut. Kebermaknaan dalam belajar akan dicapai mana kala siswa merasa terlibat dan berperan aktif secara menyenangkan dan penuh perasaan gembira. Kebermaknaan dapat tercapai dalam kegiatan pembelajaran yang memberi ruang dan kesempatan sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan cara dan potensi unik mereka masing-masing, dengan bimbingan guru (tanpa mendominasi) yang mampu melayani kebutuhan para siswanya yang heterogen.

Catatan:

Tulisan ini belum memuaskan bagi saya. Mungkin karena RPP dalam kualitas Kedua merupakan pengetahuan baru bagi saya yang juga sekaligus memancing rasa penasaran saya untuk dapat merancangnya. InsyaAlloh ke depannya akan diupayakan untuk dapat terealisasi. Saya harus lebih banyak belajar dan terus berusaha, never ending effort (meminjam istilah Pak Marsigit).

13 komentar:

Dr. Marsigit, M.A mengatakan...

Hebat. Saya kira baru Ibu yang telah merefleksikan RPP kualitas ke dua. Saya sangat menghargai usaha Ibu dan mudah-mudahan tulisan Ibu dapat juga dibaca oleh teman yang lain. Jika Ibu menginginkan uraian lengkap mengenai RPP kualitas ke dua, maka itu semua terjabarkan dan terefleksikan pada Kuliah saya dari awal sampai akhir. Jadi sampai batas mana kita akan memikirkan dan mengimplementasikan? Inilah relevansi artikel saya berjudul "Elegi Guru Menggapai Batas". Apakah ibu sudah mencermatinya. Tolong berikan komentar pada artikel tersebut supaya pikiran dan kreativitas Ibu dapat juga diketahui oleh yang lain dengan lebih efektif. Salam buat keluarga, Bapak dan putri ibu. Semoga menjadi keluarga SAKINAH. Amien (Dosen; Dr. Marsigit)

Dr. Marsigit, M.A mengatakan...

Melihat tayangan gambar keluarga Ibu, saya menangkap itulah KARUNIA dan RAKHMAT dari Tuhan YME. Kemudian Ibu menempuh kuliah, itulah KARUNIA DAN RAKHMAT Nya. Apalagi Ibu dan Ibu-ibu yang lain telah mengembangkan Blog sehingga bisa berkomunikasi meningkatkan profesi, itulah KARUNIA dan RAKHMAT NYA. Jadi kesimpulan saya SEBENAR BENAR KARUNIA JIKA KITA MAMPU MENYADARI, MENANGKAP DAN MEMAKNAINYA dari hal-hal SEKECIL APAPUN. Itulah yang saya tulis di halaman judul saya tentang THE BEAUTY OF SMALL. Apalagi perkuliahan kita, maka kita bisa menyimpulkan ITULAH SALAH SATU KARUNIA DAN RAKHMATNYA YANG TIADA TOLOK BANDINGNYA YANG DIBERIKAN KEPADA ORANG-ORANG TERPILIH YANG MAMPU MENANGKAP DAN MEMAKNAINYA. Amien (Dosen: Dr. Marsigit beserta keluarga)

Euis Kurniawati mengatakan...

Subhanalloh walhamdulillah ...
Sungguh saya merasa sangat terharu dan hampir tidak percaya bahwa apa yang saya tuliskan ternyata mendapat apresiasi yang sangat baik dari Bapak, saya merasa rikuh dan tidak pantas mendapatkannya Pak.
Namun dengan demikian saya makin menyadari bahwa benarlah adanya firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim(14):7 yaitu: " Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih".
Saya amat bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan, keluarga tercinta yang telah Ia amanahkan kepada saya, dan diantaranya dengan dipertemukannya saya (kami) dengan sosok seperti Bapak.
Terima kasih tak terhingga atas salam dan doa yang Bapak berikan untuk keluarga saya, Aghniya dan aby-nya pasti senang mengetahuinya.
Demikian pula semoga Bapak dan keluarga selalu mendapat rahmat dan karuniaNya, selalu dalam lindunganNya, dan senantiasa menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Amiin.
Untuk komentar "Elegi Guru Menggapai Batas" akan menjadi PR bagi saya. InsyaAlloh saya akan mencoba memahami maknanya terlebih dahulu. Semoga saya bisa menangkap makna yang Bapak maksudkan dalam tulisan tersebut.

Dr. Marsigit, M.A mengatakan...

Agar dapat dibaca oleh yang lain lebih efektif, maka artikel ibu tentang Kualitas kedua dalam RPP saya posting di Blog saya yang lain atas nama Ibu tetapi telah saya rekomendasi sekaligus menjadi referensi untuk mahasiswa yang menempuh kuliah Psikologi Pembelajaran Matematika, yaitu di http://marsigitpsiko.blogspot.com
Trim. (Dosen: Dr. Marsigit)

Euis Kurniawati mengatakan...

Ya Pak saya sudah mengetahuinya sejak kemarin malam. Terima kasih atas rekomendasi yang telah Bapak berikan kepada saya. Semoga makin menambah semangat saya dan juga teman-teman yang lain untuk terus menulis dan menjadikan blog sebagai sarana belajar dan sharing ilmu maupun pengalaman.

Sairan mengatakan...

Selamat ya bu. tulisan ibu bagus dan enak dibaca.

Euis Kurniawati mengatakan...

Alhamdulillah, terima kasih Pak Sairan.

Achmad Agus S, S.Pd. mengatakan...

Melihat kreatifitas penulisan bu euis, jadi penasaran untuk melihat tulisan bu euis yang lain. enak di baca dan mengilhami. terimakasih bu euis...

Euis Kurniawati mengatakan...

Sama-sama Pak, walaupun hanya sedikit namun jika dapat memberi manfaat, itulah yang kita harapkan. Terima kasih Pak Achmad Agus.

Asep Rahmat Saepuloh mengatakan...

Bu Euis ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk. Tidak banyak berbicara tetapi ditunjukkan dengan prestasi yang nyata. Saya merasa bangga memiliki teman yang yang bisa membuktikan bahwa orang daerah bisa menghasilkan karya yang berharga. Ibu telah mengembangkan potensi diri secara optimal sehingga bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Euis Kurniawati mengatakan...

Wah isin dikomentaran ku dulur sapaguron mah he..he..
'Bu Euis ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk': Kiasan yang mungkin terlalu hebat untuk saya Pak Asep. Saya hanya sebutir padi yang mulai tumbuh, mudah-mudahan padinya tidak dimakan tikus atau terkena hama yang lain.
Hatur nuhun Pak Asep.

KARSO MULYO mengatakan...

Ya emang benar kata pak Asep semakin padi menunduk , semakin mudah pula untuk ditutul(dimakan). Karena burungpun dapat bertengger didahannya. Ok seperti blog non Euis semakin postingan turun ke bawah makin enak dinikmati. Amboy cepet pinter ya.

Euis Kurniawati mengatakan...

Alhamdulillah, terima kasih atas komentar dan kunjungannya ke blog saya. O ya tolong fitur folowernya dipasang mas, saya dan rekan-rekan yang lain jadi tidak bisa link ke blog njenengan. Makasih