Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Sabtu, Desember 20, 2008

Usaha-usaha Saya untuk Meningkatkan PBM Matematika Menuju Kualitas Kedua (antara teori dan pengalaman/kenyataan)

I. Pengertian Kualitas Kedua dalam Matematika, Pendidikan Matematika, dan Pembelajaran Matematika

Menurut Bapak Dr. Marsigit M.A., kualitas seorang guru Madya, guru Dewasa, dan guru Pembina dapat dibedakan sebagai berikut:

  • Kualitas Kesatu, yaitu penampakan secara fisik yang dapat terlihat oleh indra penglihatan kita secara langsung. Misalnya: guru A badannya kurus, berambut keriting atau guru B berkacamata dan memakai kemeja warna biru, dan sebagainya.
  • Kualitas Kedua, yaitu penampakan secara bathiniah (inner) dalam diri seorang guru, bisa jadi terpancar keluar berupa tindakan dan tingkah laku dalam melakukan kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Kualitas Kedua menunjukkan tingkat kualitas yang lebih tinggi dari kualitas Kesatu/pertama. Ungkapan/utterances kualitas Kedua pernah saya postkan sebelumnya, berikut saya coba repostkan beberapa ungkapan yang telah dibahas oleh Dr. Marsigit M.A. diantaranya:
    Apodictic: menunjukkan bahwa matematika bersifat ketat (logika matematika jelas/ketat) bisa dibedakan benar salahnya.
    Anomali: istilah sosial (reaksi), sikap (ambivalensi), agama (kemunafikan), sedangkan dalam matematika berarti 'kontradiksi' atau pertentangan.

    Kontradiksi dalam matematika →kebenaran matematika bersifat koheren ( sesuai dengan janjinya), semua diturunkan sesuai janjinya.

    Korespondensi (dicocokkan dengan faktanya).
    Paralogisism: bagi manusia bisa bermacam-macam tuhan.
    Antinomi: dewa-dewa banyak sehingga suka berperang.
    Ampibol: kebohongan (guru terhadap siswa, misalnya memberikan tugas kepada siswa tapi hasilnya tidak dinilai/dikoreksi).
    Fallibist: pandangan yang salah pun sudah melakukan matematika. (belum paham nanti mau bertanya lagi, hehe).
    Monism: (1), tapi 1 disini berarti kuasa tuhan (Yunani: tohen). Artinya semuanya untuk 1, dan semuanya berasal dari yang 1.
    Teleologi: di dunia ini apa sih yang tidak berasal dari 1 titik? Garis dapat dipandang sebagai titik tak jereng, bidang dapat dipandang sebagai titik tak jereng, bola dapat dipandang sebagai titik tak jereng, dan sebagainya.
    Arsitektonik: Dunia yang kita lihat adalah apa (dunia) yang kita pikirkan. Penerapannya dengan menggunakan analogi, misalnya kalau ingin menengok matematika tengoklah pikiran anda, matematika tidak lain dan tidak bukan adalah pikiran anda. Matematika bukan buku paket, LKS, kalkulus, dan sebagainya.
    Isomorphis: hubungan bangun matematika (misalnya guru dan siswa), terjadi hubungan pemetaan.
    Epistemologis: cara/teknik/strategi/trik/pendekatan/metodologi, cara mengambil sesuatu (pengetahuan/konsep) secara halus tanpa disadari (dipaksakan).
    Judgment: menurut Bloom (evaluasi) berarti pengambilan keputusan. Merupakan tahap berpikir yang paling tinggi. Menurut filsafat: matematika adalah ilmu mengambil keputusan (bagaimana siswa dapat mengambil keputusan) menuju kualitas Kedua.
    Apriori: belum melihat (orangnya, bendanya), Cuma katanya (tentang benda).
    Aposteriori: mencoba melihat dulu (melihat bendanya). Contoh dalam matematika: belum pernah mengukur keliling bumi tapi dapat menghitung/memperkirakan kelilingnya, segitiga yang kita gambar adalah hanya model yang terdiri dari kapur atau spidol.
    Subserve: jenis pengetahuan (melihat langsung/mendengar langsung dari sumber/pelaku asli).
    Superserve: jenis pengetahuan tanpa melihat langsung (Cuma katanya, mendapat informasi dari orang lain yang bukan sumber/pelaku asli).
    Ontologis: ilmu hakekat, ilmu yang paling dalam dan paling luas (tidak ada yang dapat membantah). Contoh: manusia ciptaan Tuhan, hakekat metamatika sekolah, hakekat iman dan takwa, hakekat belajar, dan sebagainya.
    Hologram: karena banyaknya karakter pribadi yang tertimpa pada saat yang bersamaan, maka respon bisa nberubah-ubah, bisa A, B, C, dn sebagainya. Contoh: Pada saat bersamaan ada undangan rapat, pilih yang paling penting dan memungkinkan untuk diikuti sesuai situasi dan kondisi.
    Phenomenologi: mengambil sifat yang diperlukan saja (yang penting-penting saja). Contoh: dalam menyusun soal tes bagi siswa SMP tentang segitiga tidak perlu diuraikan terbuat dari apa, jenis kayunya apa, dan sebagainya. Cukup bentuk dan ukuran yang diperlukan dalam soal.
    Transcendent: dibicarakan/diperdebatkan tapi tidak ada barangnya. Contoh: wukuf.
    Intuisi: wadah benda yang kita pikirkan, terdiri dari intuisi ruang dan intuisi waktu. Contoh: jika ada mahasiswa tidur saat kuliah berlangsung, apakah intuisi waktu atau intuisi ruang?

    Ungkapan-ungkapan yang belum tergali lebih banyak lagi dan bisa saja timbul dari pengalaman unik setiap guru di sekolah. Meskipun baru sedikit yang saya ketahui namun cukup kiranya sebagai stimulan bagi tumbuhnya kesadaran dalam diri bahwa apa yang saya pikirkan, apa yang saya lakukan selama ini di kelas sungguh belum mencapai kualitas Kedua yang diharapkan.

    Kesalahan yang seringkali terjadi adalah saya masih beranggapan bahwa semua siswa dapat menerima cara saya mengajar, 'kesombongan' saya di depan kelas yang terkadang merasa sebagai seorang sutradara yang telah mampu mengatur alur kegiatan pembelajaran dengan baik. Merasa apa yang saya lakukan telah maksimal.

    Saya seperti orang yang sedang termenung dan dikejutkan dengan kenyataan yang ada. Agak tergeragap memang, tapi semoga kesadaran baru ini memenuhi rongga pikiran saya. Kualitas Kedua, untuk menggapainya memerlukan perjuangan keras dan tak kenal lelah. Sementara saya akan memulainya dengan hal-hal yang sederhana tapi sangat penting untuk langkah kedepan lebih jauh lagi.

    II. Usaha-usaha Saya

    1. Menumbuhkan kesadaran, terhadap:
      • Keunikan setiap pribadi siswa saya.

        Di kelas saya ada sekitar 45 siswa, manusia yang mempunyai berbagai hal yang berbeda. Cara berpikir yang berbeda-beda, potensi yang berbeda pula. Keadilan dalam memperlakukan siswa saya tidak berarti sama rata sama rasa akan tetapi juga adil dalam melayani kemampuan belajar yang berbeda di antara mereka. Bagaimana saya seharusnya memperlakukan siswa pandai tanpa meninggalkan siswa saya yang lambat dalam belajar. Bagaimana meramu dan mendesain program pembelajaran yang menyenangkan dan tidak monoton.

      • Sosok guru yang semestinya.

        Guru adalah sosok yang seharusnya digugu dan ditiru. Itu berlaku dua atau tiga dekade lampau. Dalam artian sosok guru sebagai satu-satunya sumber dan pedoman siswa dalam belajar. Akibat negatif dari anggapan ini adalah sikap guru yang sombong, anti terhadap kritik dan saran yang bermanfaat, merasa diri paling pintar di kelas atau di sekolah sehingga tidak mau belajar hal-hal atau ilmu pengetahuan yang terus berkembang dalam hitungan detik. Dengan kata lain guru merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya.

        Guru seharusnya selalu merasa haus akan ilmu dan informasi baru yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan bidang ilmu yang diajarkannya. Selalu ingin tahu kemajuan apa yang diperoleh guru lain di tempat lain, agar ia tidak berjalan di tempat namun senantiasa maju bersama dengan para siswanya.

        Yang paling penting, guru seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi dan peka terhadap kebutuhan belajar para siswanya. Selalu ingin tahu penyebab ketidak berhasilan pembelajaran di kelasnya.

      • Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

        Setiap kegiatan pembelajaran mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Kita kadang terlena dengan tujuan pembelajaran yang tertera dalam silabus semata. Jika tujuan itu telah tersampaikan maka dianggap tujuan pembelajaran telah tercapai.

        Tujuan pembelajaran seperti itu hanyalah tujuan jangka pendek. Sedangkan tujuan pembelajaran yang sejatinya adalah bagaimana caranya agar jiwa yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran seperti keuletan, ketekunan, sifat pantang menyerah, kemampuan mengkomunikasikan ide dan gagasan, kemampuan berpikir kritis dan logis dapat terserap dalam prilaku keseharian siswa. Sebagai bekal dalam menghadapi masalah kehidupan yang sebenarnya.

    2. Merubah orientasi berpikir, yaitu:
      • Siswa adalah subjek dalam kegiatan pembelajaran, sehingga ia boleh saja ikut menentukan pilihan-pilihan dalam kegiatan pembelajaran di kelasnya. Seperti memilih model pembelajaran yang sesuai, memilih jenis dan waktu penilaian, memilih alat dan bahan/media yang sesuai dengan kondisi ekonomi, atau memilih urutan penyampaian materi pembelajaran dalam satu semester.
      • Guru adalah fasilitator dan pelayan bagi siswanya, menyediakan kebutuhan pembelajaran baik berupa media, model pembelajaran, sumber belajar yang diinginkan dan sesuai dengan kondisi siswanya. Namun tidak mendominasi kegiatan pembelajaran.
      • Untuk dapat berubah ke arah yang lebih baik tidak bisa sendirian. Guru harus mampu menularkan Virus inovatif, kreatif, produktif, dan efektif ke guru-guru yang lain agar tercipta perubahan yang menyeluruh.
    3. Memulai perubahan, yaitu:
      • Meningkatkan hubungan secara personal dengan siswa-siwa saya untuk lebih menggali potensi maupun kendala belajar yang mereka hadapi.
      • Meningkatkan wawasan dengan banyak membaca, rajin mendengar dan melihat sumber informasi baik media cetak maupun elektronik.
      • Mengasah kemampuan berpikir kritis agar selalu peduli dan tanggap terhadap segala perubahan yang terjadi dalm dunia pendiidkan.
      • Membiasakan menulis ide, nantinya diaharapkan mampu membuat tulisan dalam bentuk karya ilmiah, buku, dan sebagainya.
      • Membiasakan rajin menulis dalam blog saya.
      • Melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi bilamana dana memungkinkan.
      • Rajin mengikuti kegiatan seminar, pelatihan, yang berkenaan dengan peningkatan kemampuan mengajar.
      • Melakukan penelitian misalnya PTK, sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah yang terjadi dalam pembelajaran di kelasnya.
      • Membuat alat bantu pembelajaran atau alat peraga yang ekonomis, praktis namun efektif bagi kegiatan pembelajaran.
      • Melaksanakan Lesson Study.
      • Terlibat aktif dalam kegiatan MGMP di sekolah maupun di daerah saya agar terjadi sharing ilmu maupun pengalaman dengan sesama guru matematika yang nantinya diharapkan dapat bersama-sama maju menuju kualitas Kedua.
    4. Mengevaluasi dan refleksi.
      • Mengisi agenda guru agar kegiatan yang telah dilakukan terekam dengan baik. Cara ini sangat penting terutama bagi guru yang pelupa, yang terkadang tidak ingat terhadap tugas atau PR yang telah diberikan di kelas.
      • Membiasakan diri membuat catatan kecil mengenai hal-hal atau kejadian-kejadian penting dalam kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, misalnya sikap beberapa siswa terhadap kegiatan pembelajaran di kelas VII A, pertanyaan kritis siswa pandai, komentar siswa, dan sebagainya.
      • Sering melakukan dialog dengan siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, kesan-kesan, kesulitan, hal-hal menarik yang mereka alami dan sebagainya.
      • Meminta bantuan rekan guru matematika untuk menanyakan kesan-kesan siswa terhadap pembelajaran yang telah saya sampaikan. Dengan cara ini, biasanya siswa lebih jujur karena tidak ditanya langsung oleh guru yang mengajar di kelasnya.
      • Melakukan diskusi dengan rekan guru matematika yang ada di sekolah terhadap masalah-masalah dalam pembelajaran matematika yang telah dilakukan, dilanjutkan dengan melaksanakan PTK.

    Upaya yang saya lakukan belum cukup dan tidak pernah cukup untuk mencapai kualitas Kedua dalam matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika. Namun mudah-mudahan apa yang saya upayakan dapat menjadi suatu titik awal yang berpengharapan agar saya dapat mencapai kualitas Kedua di masa mendatang. Semoga.

  • 2 komentar:

    Dr. Marsigit, M.A mengatakan...

    Hebaatt. Saya sangat senang membaca artikel ibu yang telah menunjukkan kerja kerasnya dalam melakukan inovasi. Memang inovasi dimulai dengan kesadaran akan makna yang kita geluti sedalam-dalam dan seluas-luasnya, kemudian mengembangkan sikap memiliki persoalan sehingga tidak sekedar menerima inovasi tetapi merasa bertanggung jawab dan terpanggil untuk melakukan inovasi yang dilanjutkan dengan keterlibatan dalam berbagai aspek inovasi sehingga kita akan memperoleh pengalaman inovasi baik secara mandiri, bersama maupun secara sistemik. Itulah sebanar-benar pendidikan, yang juga sedang saya alami juga. Sedemikian sehingga kita masing-masing mempunyai tugas dan haknya membangun dunia, dunia diri, dunia pendidikan, dunia keluarga, dunia matematika dst, yang pada gilirannya kita akan menjadi manusia yang berkualitas baik di dunia maupun akhirat. Amen. Salam buat keluarga dan juga putra ibu yang manis. (Dosen: Dr. Marsigit)

    Euis Kurniawati mengatakan...

    Alhamdulillahirobbil 'alamiin. Saya tersadarkan oleh ide-ide dari Bapak yang belum pernah saya dapatkan dari guru maupun dosen saya yang lain. Terima kasih atas ilmunya ya Pak, saya tidak pernah menyesal meski harus kuliah jauh dari keluarga, bertemu tokoh seperti Bapak adalah pengalaman paling berharga. Bravo buat Bapak.