Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Sabtu, Desember 27, 2008

Guru Matematika yang Profesional: Sebuah Tanggapan

Dr. Marsigit M.A. dalam blognya Pembelajaran Matematika (http://pbmmatmarsigit.blogspot.com) menyampaikan bahwa indikator Guru Matematika yang Profesional terdiri dari 37 butir. Saya berpikir apakah jumlah indikator tersebut terlalu banyak atau malah sebaliknya terlalu sedikit. Barangkali masih banyak indikator lain yang belum beliau tuliskan? Saya belum bisa mengetahui jawabannya. Tetapi menurut saya sendiri yang masih harus banyak belajar dari ilmu dan pengalaman-pengalaman beliau, ke-37 indikator tersebut benar adanya memang seharusnya dapat dipenuhi dalam rangka meniti upaya untuk menjadi guru matematika yang profesional. Namun saya merasa masih sangat jauh dari predikat tersebut. Entah berapa butir atau mungkin hanya sebutir yang sudah (sedang) saya upayakan.

Menurut versi saya sendiri, guru matematika yang profesional adalah guru matematika yang ikhlas dan konsisten (istiqomah) dalam menjalankan tugas profesinya, punya kemauan untuk terus belajar, serta berkemauan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap dirinya.

Guru matematika yang profesional selalu ikhlas dan istiqomah dalam menjalankan tugas profesinya. Setiap pekerjaan, seringan apa pun pasti mempunyai tantangan atau kendala, apalagi profesi sebagai guru. Kendala yang dihadapi dari hari ke hari bukan semakin sedikit malah makin bertambah. Kenyataan yang terjadi bahwa semakin majunya perkembangan jaman bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi dengan semakin majunya teknologi informasi sangat bermanfaat untuk meringankan tugas guru dalam kegiatan pembelajaran seperti memperoleh sumber atau bahan belajar yang beragam, metoda pembelajaran yang bervariasi, media dan alat pembelajaran, dan sebagainya. Akan tetapi ternyata perkembangan jaman juga membawa permasalahan yang lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Tantangan yang dimaksud diantaranya:

  • Perubahan persepsi sosok guru di mata siswa, guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang serba tahu, serba bisa, para siswa sekarang lebih memposisikan sosok guru sebagai mitra belajar.
  • Tuntutan dan harapan yang semakin kuat dari (sebagian) orang tua siswa terhadap peran guru di sekolah terkadang menambah beban berat bagi guru. Misalnya, orang tua berharap agar guru mampu mencerdaskan, membimbing, mengubah prilaku buruk siswa, serta mampu membuat siswa siap bersaing di dunia kerja.
  • Peran media massa maupun elektronik yang tidak imbang dalam menyajikan berita. Terlalu mengekspos berita-berita penyimpangan atau kesalahan guru, misalnya tindak kekerasan di sekolah, membuat para guru harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Karena kesalahan yang dilakukan dapat dicap sebagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia). Sementara peran guru yang berprestasi dan berhasil dalam mendidik siswa tidak banyak diketahui masyarakat.
  • Berlimpah ruahnya informasi baik di buku, majalah, koran, TV, radio, maupun internet membuat guru harus pandai memilah dan memilih informasi yang benar-benar bermanfaat dan menyehatkan bagi pikiran dan jiwanya. Tak sedikit guru yang menjadi pencandu bacaan dan tontonan porno. Bagaimana mungkin guru yang demikian dapat berbicara masalah moral di hadapan siswanya sementara ia sendiri tidak mampu memberikan contoh yang baik, guru-guru yang demikian akhirnya akan menjadi guru yang munafik.

Lalu bagaimana implikasinya terhadap guru? Segala tantangan yang ada seyogyanya tidak menjadikan guru mandeg, berhenti berusaha, namun malah dijadikan sebagai ladang amal (meminjam istilah Aa Gym), menjadikan tugasnya mendidik siswa sebagai usahanya meningkatkan kualitas diri dengan terus berusaha melakukan hal-hal bermanfaat yang dapat ia sumbangkan sekecil apa pun itu untuk kemajuan para peserta didik, dunia pendidikan, dan secara langsung ataupun tidak, berimbas juga bagi kemajuan dirinya. Selanjutnya konsisten dengan usahanya disertai kemampuan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian ia akan merasa ikhlas akan apa yang dikerjakannya, tidak merasa terbebani dan selalu optimis.

Guru matematika yang profesional berkemauan kuat untuk terus belajar. Ia tidak akan merasa puas dengan ilmu yang telah dimilkinya. Semakin banyak tahu akan semakin merasa lebih banyak hal yang tidak ia ketahui. Khususnya dalam dunia matematika dan sains, teori-teori lama bisa terbantahkan oleh teori-teori maupun penemuan-penemuan baru. Jika seorang guru matematika tidak mau belajar dalam arti tidak mau mengupdate ilmu dan informasi kematematikaannya, ia akan tertinggal oleh guru lain atau bahkan oleh siswanya sendiri.

Bagaimana caranya agar guru mau selalu belajar? Pertama, ingatlah bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Hebatnya kita dihadapan siswa dengan 'serba bisa' membahas soal yang sulit misalnya, adalah karena sebelumnya telah belajar atau mempersiapkan diri untuk 'bisa' mengerjakan soal tadi. Dengan kata lain, guru telah mendapatkan pengetahuan lebih dahulu dari siswa. Dengan semakin cepatnya mengakses informasi dan ilmu bukan hal mustahil suatu ketika kita akan tertegun bahkan tergagap tatkala siswa menyodorkan permasalahan yang tidak kita ketahui. Kedua, bukankah ada jaminan dari Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Mujadah ayat 11 yaitu "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Sedangkan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya menjelaskan, "Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan menunjukinya satu jalan di antara jalan ke jannah." (Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Semoga akan menjadi daya dorong yang kuat untuk kita agar memiliki kemauan yang kuat untuk terus belajar.

Guru matematika yang profesional mau melakukan evaluasi dan refleksi terhadap dirinya. Tak ada guru yang tidak pernah melakukan kesalahan. Entah disadari atau tidak, pasti pernah suatu ketika berbuat salah baik kesalahan dalam berprilaku maupun kesalahan dalam menyampaikan konsep, materi, contoh, atau salah dalam menyelesaikan soal. Bagaimana kalau kesalahan-kesalahan guru selama kegiatan pembelajaran tidak segera diperbaiki? Tentunya siswa yang akan dirugikan dan disesatkan. Itulah sebabnya, betapa pentingnya guru melakukan evaluasi dan refleksi. Evaluasi diri dapat menilai sudah sejauh mana usaha yang dilakukan, adakah kendalanya, bagaimana hasilnya, bagaimana tanggapan siswa, adakah yang merasa tidak nyaman dengan pembelajaran yang dilaksanakan, apa akibatnya bagi siswa, dan apa akibatnya bagi guru.

Setelah guru melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakannya, ia dapat merefleksikan dirinya, ia dapat merancang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan, menambah hal-hal yang positif untuk upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika, peningkatan pelayanan bagi kebutuhan belajar siswanya serta peningkatan bagi kualitas dirinya. Kualitas Kedua tentu saja.

Jika saya coba hubungkan ciri guru matematika yang profesional versi saya dengan hasil telaah Pak Dr. Marsigit M.A. barangkali akan seperti berikut ini:

  • Guru matematika yang ikhlas dan konsisten (istiqomah) dalam menjalankan tugas profesinya, dengan indikatornya nomor: 4 – 12, 16 – 20, 27, 30, 40 (31) dan 44 (35) .
  • Guru matematika yang punya kemauan untuk terus belajar, dengan indikatornya nomor: 1 – 3, 15, 21, 23, 24, 29, 41 (32), 42 (33), 43 (34), dan 45 (36).
  • Guru matematika yang punya kemauan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap dirinya, dengan indikatornya nomor: 13, 14, 22,25, 26 28, dan 46 (37).

Akhirnya, semoga sebanyak apa pun indikator yang diperlukan untuk mencapai suatu predikat guru matematika yang profesional tidak menjadikan nyali kita sebagai guru matematika menjadi ciut. Semuanya berpulang kepada diri guru masing-masing. Adakah kemauan untuk berusaha mencapainya, adakah upaya walau pun baru sedikit, untuk melakukan yang terbaik bagi para siswanya dalam kegiatan pembelajaran matematika. Marilah kita semuanya, sebagai guru matematika, berupaya untuk berdaya. Memberdayakan diri kita untuk kemajuan peserta didik, dunia pendidikan, dan dunia matematika. Serta meningkatkan kualitas diri ke kualitas Kedua. Semoga.

0 komentar: