Rabu, Mei 20, 2015
Video Animasi: Flowers Problem
Selasa, Mei 19, 2015
Senin, September 16, 2013
Guru dan KTI, TTM atau TTT?
Minggu, September 15, 2013
Sageuk dan Matematika
Original message
Wrapped message
Rabu, Agustus 28, 2013
Guru Gaptek, Guru Gak Gaul
Selasa, Agustus 27, 2013
Ibu Noname Inspiratorku
Senin, Juli 19, 2010
Asal Tempel
Kamis, Januari 22, 2009
RPP Kualitas Kedua pada Skema Interaksi
Klasikal: Kebersamaan
Bagaimana upaya guru dalam merancang RPP yang dapat menumbuhkan kesadaran siswa bahwa dalam kegiatan belajar, siswa harus mau berbagi tempat dan kesempatan dengan orang lain. Bagaimana upaya guru dalam merancang RPP yang dapat melibatkan siswa dan berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran secara klasikal.
Diharapkan siswa dapat menyadari bahwa dirinya adalah mahluk sosial dan merupakan bagian dari suatu kesatuan manusia yang mempunyai tujuan yang sama yaitu belajar dan mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi dengan siswa maupun dengan guru.
Kelompok: Kerja sama, toleransi, sikap saling menghargai
Bagaimana upaya guru merancang dalam RPP yang dapat mengelola kegiatan pembelajaran dalam suatu interaksi kelompok. Bagaimana upaya guru agar kegiatan siswa dapat saling berinteraksi antar anggota dalam satu kelompok secara efektif dan saling membantu satu sama lain. Selanjutnya interaksi antar anggota dalam satu kelompok dapat dikembangkan menjadi interaksi dengan anggota kelompok lain berupa diskusi, tanya jawab, atau presentasi.
Diharapkan dengan kegiatan tersebut siswa dapat memahami bahwa setiap manusia pasti membutuhkan manusia lain dalam hidupnya. Siswa dapat bekerja sama dengan orang lain, mampu bersikap toleransi terhadap perbedaan yang ada, mau menghargai pendapat, kelebihan, maupun kelemahan orang lain.
Individual: Kemandirian, percaya diri, tanggung jawab
Ada saatnya siswa harus belajar secara individual tidak tergantung pada kerja kelompok maupun kegiatan belajar secara klasikal.
Bagaimana upaya guru dalam merancang RPP yang mampu melayani kebutuhan belajar siswa secara individual. Sebagai insan yang unik, siswa mempunyai kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Namun demikian dengan potensi yang dimilikinya, diharapkan siswa mampu belajar secara mandiri dan penuh rasa percaya diri. Sehingga muncul kesadaran akan tanggung jawab terhadap apa yang telah, sedang, dan akan dilakukannya. Sebagaimana setiap manusia nanti akan sendirian dalam menghadapi kematian dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia, juga sendirian.
Senin, Desember 29, 2008
Mengkhawatirkan, Netral, atau Berpengharapan?
Hari Selasa besok (30 Desember 2008) adalah kegiatan perkuliahan terakhir (insyaAllah) dalam perkuliahan Perencanaan Pembelajaran Matematika. Untuk itu saya akan menulis tentang salah satu hal yang paling berkesan dalam perkuliahan tersebut. Mengkhawatirkan, Netral, Berpengharapan .... Adalah tiga ungkapan yang masing-masing menggambarkan situasi yang berbeda. Tiga ungkapan (yang disandingkan) yang baru saya dengar pertama kalinya dari dosen Perencanaan Pembelajaran Matematika UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) yaitu Dr. Marsigit M.A. Beliau menggunakannya mana kala menemukan istilah/ungkapan yang menunjukkan tingkat/kadar harapan atas aktivitas guru baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi dalam suatu kegiatan pembelajaran. Anda bisa membaca ungkapan-ungkapan tersebut dalam blog beliau Means of Global (http://powermathematics.blogspot.com) tanggal 26 November 2008. Ungkapan-ungkapan yang menunjukkan dominasi aktivitas guru terhadap siswa, maupun kebiasaan/budaya instan dalam proses pembelajaran, dikelompokkan dalam kategori mengkhawatirkan. Ungkapan-ungkapan yang masih dalam taraf mengkhawatirkan tapi di dalamnya sudah tercermin usaha untuk melibatkan aktivitas dan ada upaya untuk melayani kebutuhan siswa dimasukkan sebagai kategori netral. Sedangkan ungkapan-ungkapan yang mengandung upaya-upaya untuk melibatkan aktivitas, keinginan, dan pelayanan kebutuhan belajar siswa dalam pembelajaran; upaya guru untuk mempersiapkan-melaksanakan-mengevaluasi kegiatan pembelajaran; upaya guru menampilkan matematika sebagai aktivitas sosial atau kegiatan komunikasi yang menyenangkan; upaya guru meningkatkan kualitas dirinya menuju kualitas Kedua; dikategorikan sebagai yang berpengharapan. Beberapa ungkapan yang dikategorikan sebagai mengkhawatirkan, netral, maupun berpengharapan: Mengkhawatirkan Melihat contoh, mengajar, kupas tuntas, mendapat, baik, menjelaskna konsep, berorientasi pada buku teks, berorientasi pada materi/konten, pengajaran langsung, menyampaikan konsep, menyampaikan metode, drill masalah/soal, RPP formal, berpusat pada guru, pengajaran terbimbing, tes, mendominasi, inisiatif guru, metode deduksi, kesimpulan oleh guru, pengajaran ideal, stimulus-respon, ekspositori, metode tunggal, pertanyaan tertutup, transfer ilmu, kurikulum, kurikulum berbasiskan kompetensi, berorientasi pada produk, pendidikan, kebijakan, berorientasi pada sertifikat/ijazah, penentuan nilai, persaingan, eliminasi, menentukan tugas, kata-kata yang dapat dipahami, sombong/angkuh, otoriter, ketergesaan, cara cepat/singkat, hasil secara instan, tidak jujur, tertutup, marah, cemas, mutlak, baik-buruk, dll. Netral Aplikasi fase PBM, contoh metode, mendapatkan teknik, mengajar menarik, buku teks, tanam konsep, mendapatkan model, dll. Berpengharapan Bagaimana penilaian, LKS, PBM, mengembangkan keterampilan berpikir, mengembangkan hubungan, model aktif reaktif, dapat merencanakan RPP, RPP informal, inisiatif siswa, kebutuhan siswa, lingkungan, tim teaching, LKS, matematika realistik, pemecahan masalah, pendekatan multikultural, kreativitas siswa, membangun konsep, konstruktivisme, problem possing, asesmen, portofolio, memfasilitasi kebutuhan belajar siswa, pembelajaran individual, belajar kelompok, matematika sebagai aktivitas sosial, metode montessori, membangun secara psikologi, pembelajaran berbasiskan permasalahan, metode induktif, kesimpulan oleh siswa, manajemen kelas, pembelajaran kooperatif, motivasi siswa, tutor teman sebaya, metode yang bervariasi, pembelajaran kontekstual, sumber pembelajaran yang bervariasi, asesmen otentik, asesmen berbasis kelas, kurikulum berbasis sekolah, e-learning, TIK (Teknologi Informasi dan Komputerisasi), metode diskusi, pertanyaan terbuka, metode pembelajaran inquiri, aktivitas yang menyenangkan, contoh persoalan matematika dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan berorientasi proses-produk, pembelajaran di luar kelas, pendidikan untuk semua, pendidikan sepanjang hayat,life skill, isu-siu HAM, isu-isu gender, memperbaiki, kolaboratif, realistis, demokratis, keinginan/kehendak, komunikasi, terbuka, bervariasi, fallibism, omnijektif, dll. Ketiga ungkapan tersebut biasanya beliau tuliskan dengan sebuah garis vertikal sebagai batasannya. Ungkapan-ungkapan yang 'mengkhawatirkan' dituliskan di sebelah kiri garis vertikal, ungkapan-ungkapan 'netral' dituliskan pada garis vertikal, dan ungkapan-ungkapan 'berpengharapan' dituliskan di sebelah kanan garis vertikal. Beruntung saya sempat mendokumentasikannya. Inilah yang pernah beliau tuliskan suatu ketika dalam kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika.
Refleksi Diri:
Mari kita renungkan, selama ini kita berada dalam kategori mana? Mengkhawatirkan, netral, ataukah berpengharapan? Semakin jauh kita dari kategori berpengharapan, maka semakin banyak usaha yang kita butuhkan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran untuk melayani kebutuhan belajar siswa kita, bukan kebutuhan bagi diri kita (guru) yang biasanya disalahkaprahkan dengan pemenuhan tugas pokok semata.
Yang harus kita cemaskan adalah mana kala kita telah merasa 'aman' dengan apa yang telah kita lakukan, merasa selama ini tidak ada masalah, baik-baik saja dan tak perlu ada yang perlu berubah dan dirubah. Jika demikian adanya maka sesungguhnya kita berada dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan, bahkan mungkin membahayakan (!).
Sabtu, Desember 20, 2008
Jari Hitam Putih
Euis Kurniawati, S.Pd.
SMP Negeri 2 Binong (SMP Negeri 1 Tambakdahan) Jl. Tambakdahan No. 53 Kec. Tambakdahan Kab. Subang
myaghnee@yahoo.co.id
Abstrak
Kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran matematika biasanya disebabkan oleh lemahnya penguasaan konsep dasar matematika. Salah satu konsep dasar diantaranya adalah penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Melalui makalah yang berjudul Meningkatkan Pemahaman Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat Siswa Kelas VII H SMPN 2 Binong Menggunakan Jari Hitam Putih ini penulis berupaya menyampaikan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dasar tersebut dengan suatu media/alat peraga yang belum pernah digunakan sebelumnya. Media/alat peraga yang dimaksud berupa model tangan berwarna hitam (punggung tangan) dan warna putih (telapak tangan). Masalah penelitian dibatasi hal-hal berikut: materi yang diteliti adalah Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat; subyek penelitian adalah siswa kelas VII H SMPN 2 Binong dengan jumlah siswa 42 orang terdiri dari siswa laki-laki 19 orang dan perempuan 23 orang; kemampuan siswa yang diukur adalah pemahaman konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat; penelitian dilaksanakan selama 2 minggu (14-28 Agustus 2007) dengan dibantu oleh seorang observer. Hasil yang diperoleh adalah adanya kenaikan rata-rata nilai tes dari 50,05 menjadi 75,89 serta kenaikan pencapaian ketuntasan belajar klasikal dari 28,57% menjadi 69,05%.
Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Penjumlahan dan Pengurangan, Bilangan Bulat, Jari Hitam Putih
Konsep Jari Hitam Putih
- Warna :
a. putih (telapak tangan) → bilangan positif
b. hitam (punggung tangan) → bilangan negatif - Posisi bilangan :
a. bilangan pertama (tangan kiri atau siswa/orang sebelah kiri)
b. bilangan kedua (tangan kanan atau siswa/orang sebelah kanan) - Operasi hitung :
a. Penjumlahan : Tangan kanan tidak dibalikkan.
b. Pengurangan : Tangan kanan dibalikkan. - Hasil :a. Sisa (jari hitam atau putih yang tidak dapat dipasangkan dengan warna lawannya)b. jumlah seluruhnya(jika warna jari yang tampak sama semuanya)c. nol (0) (jika jari hitam dan putih dapat dipasangkan seluruhnya)
Contoh soal :
1. Penjumlahan
a. Hitunglah hasil dari 3 + (-2) = ….
Jawaban :
Gambar 1a menunjukkan 3 jari putih dan 2 jari hitam. Gambar 1b menunjukkan jari warna berbeda dipasangkan, tersisa satu jari warna putih berarti hasilnya adalah 1.
b. Hitunglah hasil dari (-2)+(-5)=….
Jawaban :
Operasi hitung dari soal di atas adalah penjumlahan maka tangan kanan tidak dibalikkan. Sehingga yang tampak 7 jari hitam berarti hasilnya adalah -7.(Gambar 2)
2. Pengurangan
a. Hitunglah hasil dari 2 – 5 = ….
b. Hitunglah hasil dari (-2) – (-5) = ….
Jawaban :
Pada gambar 3a ditunjukkan 2 jari kiri putih dan 5 jari kanan putih. Karena operasi hitungnya pengurangan, maka tangan kanan dibalikkan menjadi 5 jari hitam (gambar 3b). Kemudian kedua warna jari yang berbeda dipasangkan, tersisa 3 jari hitam berarti hasilnya -3 (gambar 3c).
Jawaban :
Pada gambar 4a ditunjukkan 2 jari kiri hitam dan 5 jari kanan hitam. Karena operasi hitungnya pengurangan, maka tangan kanan dibalikkan (gambar 4b) menjadi 5 jari putih. Kemudian kedua warna jari yang berbeda dipasangkan, tersisa 3 jari putih berarti hasilnya 3 (gambar 4c).

Catatan:
1. Pada tahap awal, menggunakan alat peraga berupa model telapak tangan dua warna hitam (punggung tangan) dan putih (telapak tangan).
2. Untuk selanjutnya setelah konsep Jari Hitam Putih dapat dipahami oleh siswa, alat peraga diganti oleh tangan siswa sendiri. Dengan demikian alat peraga tidak akan pernah tertinggal, anti maling, tidak takut disita saat tes atau ujian. Selain itu juga praktis dan dapat dipakai seterusnya.
Kamis, November 27, 2008
The Utterances of The 2nd Quality of Mathematics, Mathematics Education, and Mathematics Learning
The utterances are:
Concept, structure, superserve,subserve, intuition, apodictic, idea, sense, empirical, judgment, analitic, synthetic, abstraction, idealization, architectonic, isomorphic, analog, critical, value, ontological, epistemological, internal, external, trancendent, construct, apriory, aposteriory, school, limit, subjective, objective, characters, nil/nothing, detemint, subject, object, predicate, right, wrong, coherent, corespondention, absolute, relative, fallibist, monism, pluralism, formal, material, normative, actual, potential, teleology, ampibol, ambivalent, contradiction, anomaly, induction, deduction, hermeneutics, phenomenology, develop, hologram, antonomy, paralogisism.













