Jumat, September 14, 2018
Sinopsis Buku: 14 Bingkai Jejak
Rabu, Januari 28, 2015
Selasa, Agustus 27, 2013
Ibu Noname Inspiratorku
Kamis, Juni 25, 2009
Ikhlaskanlah hatimu, Ibu....
Namun saat memandangi wajah anakku ketika ia terlelap, perasaan itu luruh tak berbekas. Yang ada hanyalah linangan air mata dan pengakuan dari lubuk hati terdalam, betapa aku sangat menyayangi anakku. Aku menyerah takluk, tak mampu berargumen tentang mengapa aku tidak mampu menyimpan rasa kesal pada anakku.
Mungkin itulah yang disebut naluri keibuan, anugerah terbesar bagi seorang perempuan dari Rabb penguasa alam semesta.
Maka alangkah herannya aku saat mendengar curhat temanku, ibu dari seorang putri yang menceritakan kemanjaan anakknya dengan nada marah dan sesal. Ibu yang lebih menginginkan sang pengasuhlah yang harus meladeni dan mengasuh anaknya. Ibu yang ingin leha-leha beristirahat tak ingin diganggu oleh rengekan anaknya.
Ibu, coba renungkan bahwa rengekan anak tidak berlangsung terus-menerus 24 jam. Ada saatnya ia tertidur dan itulah saat terbaik untuk ibu menata hati agar selalu ikhlas menjaga amanah dari Allah SWT.
Tidakkah ibu berpikir bahwa ketergantungan anak pada ibunya tidak akan berlangsung lama. Nanti saat ia menginjak usia remaja, ketergantungan itu akan makin berkurang. Mereka telah memiliki dunia baru yang mungkin kita tak diijinkan untuk menyentuhnya.
Berapa lama lagikah ia akan selalalu menjadikan kita, ibunya, sebagai tempat keluh kesahnya, tempat meminta pertolongan, sebagai hero dan idola di hatinya.
Tidakkah ibu berpikir, saat ia bekeluarga, ia akan semakin menjauh dari jangkauan, dari pelukan.
Tidakkah ibu berpikir, sekali saja, bahwa pengorbanan kita, berkurangnya waktu istirahat kita, berkurangnya kesempatan berdua-duaan dengan suami tercinta, berkurangnya kesempatan mengembangkan karir, ataupun berkurangnya waktu untuk jalan-jalan dengan teman-teman, tidaklah seberapa dibandingkan sebuah pelukan sayang dan air mata kerinduan yang tercurah dari dia suatu saat nanti. Dia yang membawa keluarga baru dalam hidup kita. Dia yang akan merawat dan mengasihi saat kita menjadi tua dan tak berdaya. Dia, anak yang selalu merepotkan itu.
Jadi, jangan lagi menghindar dari tugas dan tanggung jawab ibu. Hapuslah air mata sang buah hati, cium dan peluklah ia. Sampaikanlah padanya betapa ibu sangat menyayanginya. Sayangilah sepenuh hati maka ia akan merasakan betapa indah dan bahagia dunia kecilnya. Semoga kebahagiaan itu mengiringi selalu di sepanjang jalan kehidupannya, selamanya.
Semoga kita (saya) menjadi ibu yang selalu mau mengakui kesalahan, kelemahan, dan selalu mau belajar menjadi ibu yang ikhlas mengasihi anak-anaknya.
(Umi wanna say: I love you Aghniya.)
Senin, Maret 16, 2009
Umiku Berk(umi)s
Masih berkenaan dengan perubahan fisik yang kualami, ada satu kejadian yang mengharukan. Bulan lalu (Februari 2009), tidak ingat tanggalnya. Waktu itu kami bertiga, aku, suami, dan anakku seperti biasanya bercengkrama di sore hari. Tiba-tiba suamiku memperhatikan wajahku. Waktu itu aku belum tahu kalau ada beberapa lembar kumis yang tumbuh di bawah hidungku.
"Ada apa abi, kok ngelihatin wajah umi kayak gitu. Masih bunder kayak bakpao?" tanyaku sambil tertawa.
"Bukan itu, coba lihat di cermin. Tuh, kayaknya umi kumisan deh."
"Masa sih? Apa iya de?". Tanyaku pada anakku Aghniya.
Aghniya tidak menjawab, malah diam saja. Aku masih sibuk meraba-raba bagian bawah hidungku, tidak menyadari bahwa Aghniya belum menjawab pertanyaanku.
"De, bener nggak umi ada kumisnya?" kali ini kutatap matanya. Oalah... rupanya gadis kecilku yang tomboy menangis. Kedua bola matanya berair. Aku kaget, suamiku juga.
Pelan kupegang kedua pundaknya sambil bertanya, "De, kenapa ditanya sama umi kok malah nangis?".
Air matanya kini mulai mengalir melintasi kedua pipinya yang lembut. "Umi kenapa ada kumisnya?".
Aku bingung tak tahu harus menjawab apa.
"Itu karena pengaruh obat yang umi minum, nggak apa-apa nanti juga hilang kumisnya."
Suamiku membantu menjawab, sementara aku tidak bisa berkata apa-apa. Ada segumpal kesedihan yang tiba-tiba menyumbat mulutku hingga sulit berkata-kata. Mataku juga berair.
Kami terdiam beberapa saat. Untunglah suamiku mengerti dengan suasana yang menyedihkan ini. Ia berinisiatif mengajak Aghniya main game kesukaannya. Beberapa saat kemudian Aghniya sudah ceria kembali.
Malamnya, sesaat sebelum Aghniya tidur. Seperti biasa minta dikeloni. Tiba-tiba Aghniya menatap wajahku. Kali ini tidak bertanya seperti tadi sore.
"Dede mah enggak mau ganti umi, maunya umi Euis saja. Biarin ada kumisnya juga. Dede tetap sayang sama umi."
Subhanalloh.... alangkah indahnya kata-kata yang keluar dari bibir mungil anakku. Rasanya hilang sudah keresahanku yang tadi sore kurasakan. Kupeluk dan kucium keningnya dengan sepenuh cinta.
"Umi juga sayaaaaang banget sama dede. Terimakasih ya sayang."
(Untuk dede Aghniyaku tercinta, insyaAllah besok umi pulang. Kangeeeen!)












