Sebuah blog pembelajaran

*

The conversion rate of information into knowledge grows in proportion to the involvement of the learner.

**

The Importance of Communication in E-Learning course

***

How Digital Learning Technology will Change in The Next Decades

****

Learning technology in teaching. High Tech Science or Good Craft?

*****

Learning Culture

******

5 Fiture Trends of Learning and Development

Tampilkan postingan dengan label Chicken Shoup for The Soul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicken Shoup for The Soul. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 14, 2018

Sinopsis Buku: 14 Bingkai Jejak

Sinopsis

Judul buku    : 14 Bingkai Jejak
ISBN.             : 978-602-478-679-3
Penerbit        : Cipta Media Edukasi
Penulis          : Euis Kurniawati, M.Pd.
Instansi          : SMP Negeri 1 Tambakdahan Kabupaten Subang,
  Jawa Barat
Almuni           : Pelatihan Sagu Sabu Media Guru Bandung


Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Namun, oseseorang dengan jalan hidup berbeda pada suatu saat dapat saja berinteraksi dalam situasi yang tak terduga, meninggalkan berbagai jejak yang tak terlupakan.
Buku ini berisi berbagai jejak kehidupan yang dibingkai dalam narasi singkat seperti jejak suram seorang gadis pelajar SMP berusia 14 tahun yang sedang dmabuk asmara dengan seorang laki-laki dewasa beristri. Gadis bertampang polos namun teguh pendirian yang sekuat tenaga menyembunyikan hubungan asmaranya, bertingkah seolah tidak ada apa-apa meskipun bukti berada dalam genggaman gurunya.
Ada juga jejak curam ketika orang tua siswa mencoba menawar harga diri seorang guru.
Dua jejak tersebut dapat Anda temukan bersama jejak-jejak lainnya yang terbingkai dalam buku ini.
Bingkai jejak yang dapat memberi wawasan terhadap sisi lain kehidupan seorang perempuan, seorang istri; ibu; penderita AIHA, dan sekaligus guru, disela tugas dan tanggung jawabnya.
 *************************************************************************

Buku tersebut dapat Anda pesan langsung ke penulis:
081324130050 ((Whatsapp/SMS)
Share:

Rabu, Januari 28, 2015

Selasa, Agustus 27, 2013

Ibu Noname Inspiratorku

Perawakannya kecil ramping, usianya sekitar 40 tahun. Sorot matanya menyiratkan ketegasan dan sekaligus kepedihan dalam hidupnya. Itulah kesan pertama yang dapat kutangkap dari penampilan ibu kost, sebut saja namanya Ibu Noname. Beliau seorang guru IPA di sebuah SMP di kabupaten Subang.

Sejak saya diterima di SMA terpavorit di Subang yang berjarak sekitar 35 km dari tempat tinggalku, sejak itu pula saya harus kost kalau tidak mau terlambat masuk sekolah dan harus menerima kenyataan jika Satpam di pintu gerbang – dengan suka cita – tidak memperbolehkan masuk dan menyuruh siswa yang terlambat untuk pulang kembali.

Saat saya duduk di kelas 1 SMA (sekarang disebut kelas X) dua kali pindah kost dan di kelas 2 saya pindah lagi ke tempat kost milik ibu Noname. Dari infromasi lebih tepatnya kasak-kusuk beberapa teman yang lebih dulu ngekost saya mengetahui bahwa ibu Noname memiliki dua orang anak laki-laki, sedangkan suaminya (sebut saja Bapak Noname) memiliki seorang istri lagi selain ibu Noname. Jadi ibu Noname merupakan istri pertama dari Bapak Noname.

Semakin lama saya tinggal di tempat kost semakin mengenal pribadi ibu Noname. Menurut pengamatan saya yang masih remaja pada waktu itu beliau adalah orang yang rajin dan pandai mengurus urusan rumah tangga namun agak sedikit bawel yang saya pikir wajar karena kebanyakan ibu-ibu yang saya kenal juga cukup bawel. Hubungan kami cukup akrab dan kami mempunyai kegemaran yang sama yaitu nonton acara televisi “Friday the 13th”. Jika acara tersebut akan diputar beliau selalu berteriak memanggil saya dari balik dinding kamar yang berbatasan langsung dengan ruang keluarga. Beliau banyak bercerita mengenai putranya yang calon dokter dan putra bungsunya yang waktu itu masih sekolah di SMP, juga sekali-kali membicarakan suaminya yang lebih sering berada di tempat istri mudanya.

Suatu hari ketika saya, teman sekamar saya, dan ibu Noname berbincang-bincang di halaman rumah, beliau memberi nasihat kepada kami.
“Kalian sedikit banyak sudah tahu seperti apa kehidupan rumah tangga Ibu. Sulit rasanya untuk melanjutkan hidup saat suami berpaling ke perempuan lain.”
“Oh…eh… Iya Bu. Tapi saya perhatikan Ibu sangat tabah menjalaninya. Bahkan menurut saya ibu sangat berhasil sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai guru”, saya mencoba mengutarakan pendapat saya terhadap beliau.
“Itu tak lain karena ibu seorang guru, orang yang seharusnya digugu dan ditiru. Ingatan akan hal tersebut yang menguatkan ibu untuk bertahan dan menunjukkan pada suami dan istri mudanya bahwa ibu tak kan semudah itu jatuh tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan.”
Saya dan teman sekamar saya hanya terdiam meresapi kata-kata beliau.
“Kalian harus tahu bahwa seorang perempuan harus punya pendidikan yang tinggi dan pekerjaan sendiri, agar saat menghadapi kenyataan hidup yang tidak terbayangkan, contohnya kehidupan rumah tangga ibu, kalian bisa mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada suami. Karena kalian tidak pernah tahu masa depan seperti apa yang akan kalian hadapi, karena itu teruslah belajar dengan tekun dan semangat. Raihlah cita-cita kalian, apapun itu. Jadilah perempuan yang kuat dan pantang menyerah.”

Pada saat itu kami berdua manggut-manggut tanpa mengerti sepenuhnya terhadap nasihat yang beliau sampaikan. Namun saya memahami nasihat beliau agar saya rajin belajar dan kesadaran saya yang tergugah agar menjadi perempuan yang mandiri dan kuat.

Kedua hal tersebut yang menjadi bekal sepanjang perjalanan menuntut ilmu dan ketika beberapa teman perempuan sejawat saya mengalami goncangan dalam rumah tangganya saya selalu teringat nasihat tersebut namun dengan penafsiran yang baru. Bukan pekerjaan atau gelar yang membuat mereka kuat menghadapi kerikil-kerikil tajam dalam hidup berumahtangga, namun pola pikir dan interaksi dengan teman atau sahabat di tempat kerja membuat mereka lebih terbuka dan menggugah keinginan untuk berbagi dan mencari solusi yang baik bagi permasalahan yang dihadapi.

Kini ibu Noname telah pergi menghadap Rabb pemilik jiwa raganya, namun nama beliau dan nasihat beliau akan selalu saya kenang. Selamat jalan ibu Noname, ibu kostku ……. inspiratorku.

Edited from my Kompasiana
Share:

Kamis, Juni 25, 2009

Ikhlaskanlah hatimu, Ibu....

Setiap ibu pasti pernah merasakan repotnya merawat dan mengasuh balita. Aku juga pernah merasakannya. Saat anakku sangat tergantung dengan keberadaanku. Seperti buntut yang melekat selalu mengekor tidak mau lepas bahkan ke toilet sekalipun anakku tidak mau ditinggal walaupun ada nenek, kakek, dan abinya di rumah. Saat itu aku sempat berpikir betapa menjengkelkannya tingkah anakku.

Namun saat memandangi wajah anakku ketika ia terlelap, perasaan itu luruh tak berbekas. Yang ada hanyalah linangan air mata dan pengakuan dari lubuk hati terdalam, betapa aku sangat menyayangi anakku. Aku menyerah takluk, tak mampu berargumen tentang mengapa aku tidak mampu menyimpan rasa kesal pada anakku.

Mungkin itulah yang disebut naluri keibuan, anugerah terbesar bagi seorang perempuan dari Rabb penguasa alam semesta.

Maka alangkah herannya aku saat mendengar curhat temanku, ibu dari seorang putri yang menceritakan kemanjaan anakknya dengan nada marah dan sesal. Ibu yang lebih menginginkan sang pengasuhlah yang harus meladeni dan mengasuh anaknya. Ibu yang ingin leha-leha beristirahat tak ingin diganggu oleh rengekan anaknya.

Ibu, coba renungkan bahwa rengekan anak tidak berlangsung terus-menerus 24 jam. Ada saatnya ia tertidur dan itulah saat terbaik untuk ibu menata hati agar selalu ikhlas menjaga amanah dari Allah SWT.

Tidakkah ibu berpikir bahwa ketergantungan anak pada ibunya tidak akan berlangsung lama. Nanti saat ia menginjak usia remaja, ketergantungan itu akan makin berkurang. Mereka telah memiliki dunia baru yang mungkin kita tak diijinkan untuk menyentuhnya.

Berapa lama lagikah ia akan selalalu menjadikan kita, ibunya, sebagai tempat keluh kesahnya, tempat meminta pertolongan, sebagai hero dan idola di hatinya.

Tidakkah ibu berpikir, saat ia bekeluarga, ia akan semakin menjauh dari jangkauan, dari pelukan.

Tidakkah ibu berpikir, sekali saja, bahwa pengorbanan kita, berkurangnya waktu istirahat kita, berkurangnya kesempatan berdua-duaan dengan suami tercinta, berkurangnya kesempatan mengembangkan karir, ataupun berkurangnya waktu untuk jalan-jalan dengan teman-teman, tidaklah seberapa dibandingkan sebuah pelukan sayang dan air mata kerinduan yang tercurah dari dia suatu saat nanti. Dia yang membawa keluarga baru dalam hidup kita. Dia yang akan merawat dan mengasihi saat kita menjadi tua dan tak berdaya. Dia, anak yang selalu merepotkan itu.

Jadi, jangan lagi menghindar dari tugas dan tanggung jawab ibu. Hapuslah air mata sang buah hati, cium dan peluklah ia. Sampaikanlah padanya betapa ibu sangat menyayanginya. Sayangilah sepenuh hati maka ia akan merasakan betapa indah dan bahagia dunia kecilnya. Semoga kebahagiaan itu mengiringi selalu di sepanjang jalan kehidupannya, selamanya.


Semoga kita (saya) menjadi ibu yang
selalu mau mengakui kesalahan, kelemahan, dan selalu mau belajar menjadi ibu yang ikhlas mengasihi anak-anaknya.

(Umi wanna say: I love you Aghniya.)
Share:

Senin, Maret 16, 2009

Umiku Berk(umi)s

Masih berkenaan dengan perubahan fisik yang kualami, ada satu kejadian yang mengharukan. Bulan lalu (Februari 2009), tidak ingat tanggalnya. Waktu itu kami bertiga, aku, suami, dan anakku seperti biasanya bercengkrama di sore hari. Tiba-tiba suamiku memperhatikan wajahku. Waktu itu aku belum tahu kalau ada beberapa lembar kumis yang tumbuh di bawah hidungku.

"Ada apa abi, kok ngelihatin wajah umi kayak gitu. Masih bunder kayak bakpao?" tanyaku sambil tertawa.

"Bukan itu, coba lihat di cermin. Tuh, kayaknya umi kumisan deh."

"Masa sih? Apa iya de?". Tanyaku pada anakku Aghniya.

Aghniya tidak menjawab, malah diam saja. Aku masih sibuk meraba-raba bagian bawah hidungku, tidak menyadari bahwa Aghniya belum menjawab pertanyaanku.

"De, bener nggak umi ada kumisnya?" kali ini kutatap matanya. Oalah... rupanya gadis kecilku yang tomboy menangis. Kedua bola matanya berair. Aku kaget, suamiku juga.

Pelan kupegang kedua pundaknya sambil bertanya, "De, kenapa ditanya sama umi kok malah nangis?".

Air matanya kini mulai mengalir melintasi kedua pipinya yang lembut. "Umi kenapa ada kumisnya?".

Aku bingung tak tahu harus menjawab apa.

"Itu karena pengaruh obat yang umi minum, nggak apa-apa nanti juga hilang kumisnya."

Suamiku membantu menjawab, sementara aku tidak bisa berkata apa-apa. Ada segumpal kesedihan yang tiba-tiba menyumbat mulutku hingga sulit berkata-kata. Mataku juga berair.

Kami terdiam beberapa saat. Untunglah suamiku mengerti dengan suasana yang menyedihkan ini. Ia berinisiatif mengajak Aghniya main game kesukaannya. Beberapa saat kemudian Aghniya sudah ceria kembali.

Malamnya, sesaat sebelum Aghniya tidur. Seperti biasa minta dikeloni. Tiba-tiba Aghniya menatap wajahku. Kali ini tidak bertanya seperti tadi sore.

"Dede mah enggak mau ganti umi, maunya umi Euis saja. Biarin ada kumisnya juga. Dede tetap sayang sama umi."

Subhanalloh.... alangkah indahnya kata-kata yang keluar dari bibir mungil anakku. Rasanya hilang sudah keresahanku yang tadi sore kurasakan. Kupeluk dan kucium keningnya dengan sepenuh cinta.

"Umi juga sayaaaaang banget sama dede. Terimakasih ya sayang."


(Untuk dede Aghniyaku tercinta, insyaAllah besok umi pulang. Kangeeeen!)

Share:

Translate

Twitter