Sebuah blog pembelajaran

*

The conversion rate of information into knowledge grows in proportion to the involvement of the learner.

**

The Importance of Communication in E-Learning course

***

How Digital Learning Technology will Change in The Next Decades

****

Learning technology in teaching. High Tech Science or Good Craft?

*****

Learning Culture

******

5 Fiture Trends of Learning and Development

Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Matematika. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 24, 2016

Download Materi Pengayaan UN Tahun 2015 Jenjang SMP/MTs


Tahun lalu Kemdikbud merilis ebook materi pengayaan 4 mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) jenjang SMP/MTs tahun 2015. Untuk tahun 2016, sampai postingan ini dipublish masih belum ada materi pengayaan UN tahun 2016.

Namun demikian, materi pengayaan tahun 2015 tetap sangat recomended untuk dijadikan bahan belajar. Nah, bagi Anda yang membutuhkan materi pengayaan tersebut, silahkan download:
1. Bahasa Indonesia, klik DISINI.
2. Matematika, klik DISINI.
3. Bahasa Inggris, klik DISINI.
4. IPA Fisika, klik DISINI.
5. IPA Biologi, klik DISINI.


Share:

Rabu, Mei 20, 2015

Video Animasi: Flowers Problem

Video ini dibuat 31 Januari 2015 lalu. Pengalaman yang seru karena harus berkali-kali cropping body dan face puppet. Puppetnya diriku sendiri dan orang-orang tercintaku yaitu putriku dan suami. Haha.... Senang saja melihat video animasi buatanku sendiri. Meski masih sederhana tapi berkesan. Terima kasih Pak Sukani dengan DOGMITnya.


Share:

Selasa, Mei 19, 2015

Video: Refleksi Bangun Datar menggunakan Geogebra

Lagi dan lagi, hasil berkutat mengerjakan tugas diklat online. Semoga bermanfaat.


Share:

Selasa, Januari 27, 2015

Video: Animasi DOGMIT Ghost

Coba-coba oprek sana-sini, bikin yang sederhana dulu deh :)


Share:

Minggu, September 07, 2014

Tugas Matematika: Bangun Ruang Sisi Datar

Perlu diketahui bahwa Ibu akan mengikuti diklat di luar kota selama 10 hari (7 s.d. 16 September 2014), karena itu Ibu akan memberikan materi, penugasan kerja kelompok, kuis, dan soal latihan untuk kalian melalui blog ini. 

Mohon kalian ikuti aturan yang ditetapkan berikut ini:
1. Download materi mengenai Tugas Proyek Tugu, klik DISINI atau saksikan video berikut:




2. Tugas kelompok telah dijelaskan dalam video tersebut (no.1).
3. Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat didownload DISINI
4. Kuis dapat didownload DISINI
5. Soal Evaluasi Tugas Proyek Tugu dapat didownload DISINI


Catatan:
  1. Tugas kelompok dapat berupa foto atau video menggunakan handphone, atau alat perekam video lainnya.
  2. Hasil rekaman video dan LKS yang telah dikerjakan dikirim ke email ibu yaitu euistambakdahan@gmail.com.
  3. Untuk dapat mengikuti Kuis dan Soal Evaluasi, kalian diwajibkan untuk mengisi nama dan alamat email yang masih aktif. Nilai Kuis dan Evaluasi akan dikirim via email yang kalian masukkan pada saat mengerjakan soal Kuis dan soal Evaluasi.
  4. Batas pengerjaan tugas kelompok, LKS, Kuis, dan Evaluasi adalah tanggal 16 September 2014 pukul 22.00 WIB.
  5. Pertanyaan seputar tugas ini silahkan tuliskan dalam "Komentar" setelah portingan ini.
Posted by: Euis Kurniawati, M.Pd.

Share:

Senin, September 01, 2014

Video Jaring-jaring Kubus

 Silahkan simak video berikut:
 

Download video tersebut DISINI

Silahkan berikan komentar untuk video tersebut.


Share:

Selasa, Juni 24, 2014

Video Panduan Geogebra: Jaring-jaring Kubus

Berbagi oleh-oleh hasil diklat online, semoga bermanfaat.


Share:

Senin, September 16, 2013

Guru dan KTI, TTM atau TTT?


Pinjam istilah dalam bahasa gaul, TTM (Teman Tapi Mesra), dan TTT (Teman Tapi Terpaksa), haha…. Istilah terakhir tadi hasil karangan saya. Bagaimana Guru dan KTI (Karya Tulis ilmiah) dikaitkan dengan TTM dan TTT? Bisa-bisa sajah koq. ^_*
Kala harus membuat klasifikasi hunungan antara guru dan KTI, ya itu tadi ada dua kategori yaitu TTM ada yang TTT. Guru kategori TTM tidak merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya karena ia sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dengan cara yang tak dapat dibayangkan. Ia senang mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat bagi peningkatan kemampuannya dalam melayani kebutuhan belajar siswa. biasanya guru dengan kategori TTM senang menelisik kekurangan dan kelebihan pembelajaran yang telah dilakukannya, kemudian berupaya untuk memperbaiki kekurangan tersebut dengan membaca, meminta pendapat orang lain atau guru lain, bertanya kepada pakar pendidikan, selanjutnya melakukan penelitian agar guru lain yang memiliki permasalahan yang sama dapat melakukan perbaikan dengan cara yang kurang lebih serupa. Mungkin penelitian yang dilakukan guru kategori TTM ini didasari adanya Permen Menpan Nomor 16 Tahun 2009 tentang angka kredit jabatan dan peraturan bersama Mendiknas dan Kepala Kepegawaian Negara Nomor 3/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010. Namun hal tersebut hanya sebagai stimulator saja dan bukan faktor utama bagi penulisan KTI.

Sumber kutipan dari SINI

Lain dengan karakteristik hubungan guru dan KTI pada kategori TTT. Diantaranya: acuh tak acuh terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran yang diampunya. Sukar menerima saran dan pendapat dari pihak (baca: guru) lain, merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dan kenaikan pangkat/jabatan menjadi alasan utama untuk melaksanakan penelitian dan menulis KTI. Merasa bahwa keharusan guru untuk mengembangkan kemampuannya secara berkelanjutan merupakan beban dan suatu keterpaksaan yang menjengkelkan.
Nah, pada kategori mana hubungan mayoritas guru Indonesia dengan KTI? Bagaimana dengan penulis sendiri, apakah sudah TTM atau masih TTT? Sedang berupaya supaya jadi TTM. Hehehe….semoga.

Edited from my Kompasiana






Share:

Senin, Desember 31, 2012

Bimtek GeoGebra 3

Alhamdulillah....di penghujung tahun 2012 saya masih diberi kesempatan untuk mengikuti beberapa kegiatan yang sangat bermanfaat untuk pengembangan diri sebagai seorang guru yang senantiasa penting untuk terus belajar. 

Awal Desember saya mengikuti Diklat PTK yang diselenggarakan oleh PPPPTK Matematika, dan di akhir bulan Desember saya
Share:

Rabu, November 03, 2010

REFLEKSI LESSON STUDY (2)

 
Sekolah : SMPN 3 Cipunagara Kab. Subang
Kelas/Semester : VIII (delapan)/ganjil
Standar Kompetensi : 1. Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis
Kompetensi Dasar : 1.6. Menentukan gradien, persamaan dan grafik garis lurus
Indikator :
1. Mengenal pengertian gradien
2. Menentukan gradien garis lurus dari sebuah garis
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
Guru Model : Dadi Suryadi, S.Pd.
Moderator: Ahmad Firdaus, M.Pd.

REFLEKSI:
1. Guru Model (Dadi Suryadi, S.Pd.)
· Guru model merasa
Share:

Rabu, Oktober 13, 2010

REFLEKSI LESSON STUDY (1)


Sekolah : SMPN 4 Subang
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : IX (sembilan)/ganjil
Standar Kompetensi : 3. Melakukan pengolahan dan menyajikan data
Kompetensi dasar : 3.1. Menentukan rata-rata, median, dan modus data tunggal serta penafsirannya.
Indikator : Menentukan rata-rata data tunggal serta penafsirannya
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
Guru Model : Akhyar, S.Pd.
Moderator: Ahmad Firdaus. M.Pd.
Download : LKS (klik di sini), RPP (klik di sini), Lembar Observasi (klik di sini)

REFLEKSI:
1. Guru Model (Akhyar, S.Pd.)
· Guru model telah melakukan pembelajaran di 4 kelas lainnya menggunakan perangkat yang sama. Tetapi
Share:

Sabtu, Oktober 24, 2009

Puzzle Segitiga


Usai mempelajari materi Kesebangunan dan kongruensi tidak ada salahnya kalau melakukan selingan dan improvisasi seperti ini. Permainan sederhana improvisasi dari permainan puzzle segitiga dan teka-teki. Diharapkan bisa membangkitkan dan menambah semangat belajar siswa.


Share:

Selasa, Januari 20, 2009

RPP Kualitas Kedua pada Struktur Pembelajaran (Pendahuluan, Kegiatan Inti, Penutup)


Pendahuluan: minat, motivasi (semangat belajar, sikap religius)

Bagaimana upaya guru dalam merancang RPP yang mampu menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa. Misalkan dengan kegiatan awal berupa mengucapkan dan menjawab salam, atau kegiatan berdoa sebelum memulai kegiatan pembelajaran.

Hal tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa bahwa kegiatan belajar yang diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT akan mendatangkan kebaikan dan pahala yang sama dengan orang yang berjuang di jalan Allah, serta derajatnya akan diangkat oleh Allah (QS. Al-Mujadah ayat 11 yaitu "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"). Dengan demikian diharapkan selain siswa bersemangat untuk mengikuti kegiatan selanjutnya (kegiatan inti) juga menumbuhkan sikap religius dalam diri mereka.


Kegiatan Inti: berpikir, berikhtiar (kerja keras, tekun, ulet, pantang menyerah)

Bagaimana upaya guru dalam merancang RPP yang dapat menumbuhkan kemauan dan kemampuan berpikir siswa. Bagaimana upaya guru dalam merancang RPP yang dapat membangkitkan kemauan dan kemampuan untuk berikhtiar, berusaha melakukan sesuatu.

Intinya agar siswa menyadari bahwa belajar matematika tidak cukup hanya diam, mencatat, dan mengerjakan soal. Diperlukan kerja keras dan tekad yang kuat untuk dapat memahami konsep-konsep matematika. Secara luas arti kerja keras tersebut akan mereka perlukan dalam mengarungi kehidupan di dunia nyata, dalam kehidupan sehari-hari. Kerja keras, ketekunan, keuletan dan sikap pantang menyerah akan menjadi bekal dalam meraih impian dan cita-cita mereka di masa depan.


Penutup: evaluasi, refleksi ( instrospeksi, ikhlas)

Bagaimana upaya guru merancang kegiatan penutup dalam RPP berupa evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Misalnya evaluasi atau penilaian (bisa berupa komentar-komentar) dari guru terhadap siswa, dari siswa terhadap siswa, dan dari siswa terhadap guru. Kemudian guru dan siswa bersama-sama merefleksikan hasil evaluasi tersebut untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan-kekurangan dari kegiatan yang telah dilakukan sebagai bahan untuk merancang kegiatan pembelajaran selanjutnya.

Dengan demikian diharapkan siswa terbiasa introspeksi diri bahwa siapapun dapat melakukan kesalahan karena tiadalah manusia yang sempurna. Siswa mampu menghargai kelemahan dan kelebihan orang lain disertai keikhlasan dalam menerima kritik atau komentar dari orang lain, niscaya dirinya akan senantiasa mengalami proses perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.

Kegiatan penutup diakhiri dengan doa, menandakan bahwa segala upaya manusia sekeras apapun dengan hasil sehebat apapun akan berpulang pada keridhoan Allah SWT. Apakah Allah ridho atau tidak?


Share:

Sabtu, Januari 17, 2009

Refleksi: Elegi Seorang Guru Menggapai Batas

Membaca tulisanmu Bapak, membekukan tanganku, mengaburkan kedua mataku dengan kabut kesedihan. Sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk dapat menuliskan komentar ini. Kesedihan yang terlahir dari kesadaran, akulah (kami) yang akan kau tinggalkan itu.

'Elegi Seorang Guru Menggapai Batas' menurutku adalah ilustrasi dan refleksi kegelisahan, kekhawatiran seorang mahaguru (yang saya maksud: gurunya guru) atau Orang Tua Berambut Putih, terhadap muridnya (Guru Menggapai Batas). Tak lain adalah dirimu guruku.

Seperti yang kau definisikan, bahwa dirimu bisa apa dan siapa saja. Dirimu bisa saja adalah bacaanku, referensiku, pertanyaanku, pikiranku, guruku, atau dosenku. Aku bisa melihat wajahmu yang sebenarnya pada akal dan pikiranku. Tempat tinggalmu adalah di batas pikiranku. Usahaku menggapai batas pikiranmu itulah sebenarnya dirimu. Dirimu tidak lain tidak bukan sebenarnya adalah ilmuku.

Baiklah, kau bisa apa dan siapa saja, kini tak begitu penting lagi mempertanyakan dirimu. Bagiku yang terpenting adalah komunikasi transenden itu tetap terjalin, tali temali antara kau, aku, mereka, dan siapa saja yang ingin menggapai 'batas' itu.

Wahai mahaguru, benarlah adanya, keberadaanmu baik kau akui maupun tidak, telah membukakan pintu kesadaran kami akan adanya batas yang membedakan kami atas kualitas diri, Kesatu atau Kedua. Meski awalnya membingungkan, memusingkan sepusing-pusingnya, itu karena kami belum mampu berputar pada poros kami sendiri (Rotasi) untuk bersama-sama berputar mengelilingi 'matahari'(Revolusi). Untunglah, medan gravitasimu (kebijaksanaanmu, bimbinganmu, sekali lagi: kau akui maupun tidak) yang menyelamatkan kami sehingga tidak terlempar ke rimba raya luar angkasa yang pekat hitam kelam.

Alhamdulillah, seiring waktu, kami mulai berputar pada poros masing-masing. Semoga kami tidak salah menilai diri sendiri. Maafkanlah jika ini salah, inilah barangkali salah satu kesombongan kami yang kau khawatirkan itu.

Kekhawatiranmu mahaguru, jikalau kesadaran kami hanyalah euphoria sesaat. Kekhawatiranmu adalah jika semangat perubahan yang kami miliki luntur seiring waktu dan jarak yang kian terentang antara kita. Meski senyatanya tiadalah jarak itu dalam pikiranmu dan pikiran kami. Namun kau pun tak menginginkan kami selalu berada di dekatmu, mengikuti, mengejar bayang-bayangmu. Bukan, bukan itu yang kau inginkan.

Baiklah, kami pahami meski awalnya sulit menerima bahwa dirimu tak menginginkan kami ikuti; kau tahu sejak awal itulah yang kami harapkan. Kami akan merintis jalan kami masing-masing untuk menggapai batas itu. Bukankah pintu-pintu kesadaran itu kini terbuka sudah?

Meski terbayang betapa aral rintang yang menanti sepanjang jalan yang akan kami lewati, namun berbekal senjata: ilmu-naluri-intuisi serta berbekal kompas:doa-ikhlas-iman-takwa, kami akan berjuang sepanjang sisa waktu yang Allah SWT anugerahkan untuk kami. Semoga upaya yang kami tempuh memberi manfaat bagi dunia guru, dunia pendidikan matematika, dunia pembelajaran matematika, dan terutama tentunya dunia anak (siswa).

Ya Allah ridhoilah hijrah kami menembus furqon (pembeda, batas) dari kegelapan menuju terang (... minaddhulumati ilannuur... QS. Al Baqarah: 257).

Wahai Bapak, doakanlah kami agar dapat saling bersinergi satu sama lain sehingga terjalin 'planet besar' kekuatan untuk dimampatkan semampat-mampatnya menjadi black hole dalam dunia pendidikan. Lahaula wala kuwata illa billah...

Semoga perjumpaan dan perpisahan kita semata-mata karena Allah SWT yang akan mendapat naungan Arasy di hari akhirat kelak. Amiin ya robbal 'alamiin.

Allohu 'alam bi showab.

(Jazakumulloh Khoiron Katsiron atas segala pencerahannya, hanya Allah SWT yang berkuasa membalas semua amal sholeh Bapak. Amiin.)

Share:

Minggu, Januari 11, 2009

Final Reflection:

Kualitas Kedua dalam RPP pada Skema Pencapaian Kompetensi 'is never ending effort'

Pada perkuliahan terakhir hari Rabu (31 Desember 2008) sampailah kami pada suatu kesimpulan akhir tentang materi kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika (PPM). Ternyata apa yang kami harapkan selama ini dari kuliah PPM yaitu berupa 'produk' RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau Lesson Plan) yang kami bayangkan, yang baku, baik dan benar (adakah?) sesuai kebutuhan di sekolah, yang siap pakai (siap difoto copy oleh rekan-rekan di sekolah/daerah) terhempaskan sedalam-dalamnya ke dasar jurang pemikiran kami yang masih dalam kategori 'mengkhawatirkan'.

RPP yang kami harapkan tersebut adalah RPP Formal, RPP kualitas Pertama. RPP yang hanya menampakkan alur proses pembelajaran, yang bisa diperoleh dari contoh yang sudah ada, bahkan kami bisa saja mencarinya di internet.

Senyatanya, RPP yang beliau (Dr. Marsigit M.A.) maksudkan, yang beliau harapkan agar kami pahami, adalah RPP dalam ranah kualitas Kedua.

Dengan segala keterbatasan saya dalam memahami dan memaknai RPP dalam kualitas Kedua, saya mencoba untuk menuangkannya sebagai suatu wujud permulaan pemahaman yang saya miliki, tentu saja jauh dari sempurna.

Apa yang dimaksud dengan RPP?

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) adalah seperangkat persiapan yang dilakukan oleh guru meliputi skenario sebelum, selama, dan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Sedangkan menurut Dr. Marsigit M.A., RPP pada dasarnya merefleksikan aktivitas yang terjalin antara siswa dan guru.

Perbedaan nyata antara kegiatan pembelajaran di Indonesia dengan negara lain adalah terletak pada 'persiapan'. Contohnya persiapan (RPP) yang digunakan di negara Jepang berisi tentang hal-hal yang akan dikerjakan oleh siswa. Sedangkan RPP yang digunakan di Indonesia berisi hal-hal yang akan dikerjakan oleh guru. RPP yang biasanya disusun oleh guru di Indonesia, kebanyakan berupa RPP legal formal yang dipergunakan untuk kepentingan karir atau dinas semata belum menyentuh hakikat RPP yang sebenarnya (Nature Leson Plan).

RPP dapat ditinjau dari berbagai skema, diantaranya: Struktur Pembelajaran (Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Penutup), Skema Pencapaian Kompetensi (Will, Attitude, Knowledge, Skill, dan Experience), Skema Interaksi (Klasikal, Kelompok dan Individua), Skema Variasi Metode (Induksi-Deduksi) Skema Variasi Media atau alat bantu pembelajaran (LKS dan Alat Peraga) dan Skema Variasi Sumber Belajar (Buku Teks, Internet atau Blog dan ICT).

Kualitas Kedua dalam RPP

Kualitas Kedua dalam RPP pada Skema Pencapaian Kompetensi (Will, Attitude, Knowledge, Skill, dan Experience) dapat dipandang sebagai suatu cara dalam memaknai RPP berdasarkan hakikat kompetensi yang ingin dicapai dan ditampilkan dalam RPP.

1. Will: Kemauan, Kehendak (Senang, gembira)

Bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam merancang suatu RPP yang dapat mengeksplorasi dan membangkitkan kemauan atau kehendak siswa untuk belajar dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran secara menyenangkan dan dengan perasaan gembira, jauh dari rasa was-was, cemas, bahkan takut. Bagaimana upaya guru dalam membawa dunia matematika ke dunia anak (siswa). Contohnya: menghargai bahasa ibu dalam pembelajaran matematika (selawe = 25; selangkung = 50).

2. Attitude: Sikap, Pendirian (Sabar, tepat waktu)

Bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam merancang suatu RPP yang dapat menghidupkan 'ruh' pembelajaran matematika dalam diri anak yaitu berupa keuletan, ketekunan, sifat pantang menyerah, kemampuan mengkomunikasikan ide dan gagasan, kemampuan berpikir kritis dan logis, serta kemampuan mencari solusi dari suatu permasalahan. Sehingga melahirkan suatu sikap atau pendirian yang positif bagi siswa misalnya berupa sifat sabar, tekun, serta tepat waktu (disiplin).

3. Knowledge: Pengetahuan (Mengetahui)

Bagaimana upaya guru dalam merancang suatu RPP yang dapat menumbuhkan kesadaran pada diri siswa agar mereka 'mengetahui' eksistensi mereka dalam dunia matematika, pembelajaran matematika dan pendidikan matematika. Bagaimana upaya guru membangkitkan kesadaran siswa akan pentingnya membangun pengetahuan (khususnya matematika) mereka sendiri dengan potensi, cara, dan keunikan mereka masing-masing.

4. Skill: Keterampilan (Terampil)

Bagaimana upaya guru dalam merancang suatu RPP yang dapat mengasah potensi siswa dalam hal keterampilan mengemukakan ide/gagasan; keterampilan memilih solusi dari permasalahan matematika; keterampilan menyanggah, menjawab, membuktikan suatu hipotesa; keterampilan menggunakan dan menyusun alat peraga; dan sebagainya. Inti dari semuanya itu adalah agar siswa terampil menggunakan potensi keunikan mereka untuk menghadapi dan mencari solusi (secara cerdas) bagi permasalahan dalam pembelajaran matematika. Sehingga matematika tidak lagi menjadi mata pelajaran yang menakutkan dan membosankan bagi siswa.

5. Experience: Pengalaman (Kebermaknaan)

Bukankah pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik? Maka sangatlah diperlukakan upaya guru dalam merancang suatu RPP yang dapat menjadikan kegiatan pembelajaran matematika sebagai suatu pengalaman penting, berkesan dan berharga bagi siswa. Pengalaman akan dirasakan penting, berkesan dan berharga bagi seseorang jika ada makna yang mendalam dari pengalaman tersebut. Kebermaknaan dalam belajar akan dicapai mana kala siswa merasa terlibat dan berperan aktif secara menyenangkan dan penuh perasaan gembira. Kebermaknaan dapat tercapai dalam kegiatan pembelajaran yang memberi ruang dan kesempatan sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan cara dan potensi unik mereka masing-masing, dengan bimbingan guru (tanpa mendominasi) yang mampu melayani kebutuhan para siswanya yang heterogen.

Catatan:

Tulisan ini belum memuaskan bagi saya. Mungkin karena RPP dalam kualitas Kedua merupakan pengetahuan baru bagi saya yang juga sekaligus memancing rasa penasaran saya untuk dapat merancangnya. InsyaAlloh ke depannya akan diupayakan untuk dapat terealisasi. Saya harus lebih banyak belajar dan terus berusaha, never ending effort (meminjam istilah Pak Marsigit).

Share:

Jumat, Januari 02, 2009

USAHA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Antara Teori dan Pengalaman)

Nama : Euis Kurniawati, S.Pd.

NIM : 08301289022

Asal Sekolah : SMP Negeri 2 Binong Kab. Subang


I. PENDAHULUAN

Pembelajaran model lama yang berpusat pada guru (teacher-centered-oriented) sedang mendapat sorotan karena dinilai memiliki banyak kelemahan. Diantaranya karena:

  1. Guru melakukan pengajaran bukan pembelajaran. Guru yang seperti ini tidak mempunyai tujuan lain selain melakukan tugas rutin yang diembannya. Tidak punya keinginan memperbaiki cara mengajar, tidak mau terlibat lebih jauh dalam kegiatan pembelajaran. Ia menganggap tugasnya telah selesai begitu keluar dari kelas.
  2. Berperan sebagai pentransfer pengetahuan. Guru hanya memberikan pengetahuan yang ia anggap penting bukan yang siswa anggap penting. Tidak berupaya menggali dan mendalami hal-hal menarik dari ilmu yang disampaikannya. Akibatnya siswa pun tidak tertarik terhadap matematika. Siswa akan menganggap matematika adalah mata pelajaran yang kering, membosankan, menjenuhkan, dan menegangkan.
  3. Sebagai pemberi perintah/instruksi sedangkan siswa harus menuruti instruksi tersebut tanpa dapat menawar. Guru memberikan contoh soal kemudian memberikan soal latihan yang harus dikerjakan siswa sesuai cara atau contoh tadi. Siswa tidak diberi pilihan untuk mengerjakan atau memecahkan permasalahan dalam soal latihan menurut caranya sendiri. Siswa menjadi peniru, plagiat dan terbiasa berpikir mekanik. Ini membahayakan bagi kualitas jiwa dan membunuh kreativitas berpikir siswa.
  4. Merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya. Guru merasa sebagai satu-satunya orang terpandai di kelas. Ia akan merasa puas jika para siswanya tidak mempu mengerjakan soal dengan cepat, guru seperti ini senang bahkan mendapat kepuasan bathin jika kening para siswanya berkerut, pusing memikirkan cara menyelasaikan soal yang guru berikan. Ia akan menjadi juru selamat dengan membahasnya di depan kelas dan menunjukkan bahwa gurulah yang paling hebat.
  5. Anti kritik terhadap perubahan cara mengajar. Guru merasa terancam dan tersudut jika mendapat pertanyaan terhadap konsep yang telah diberikan kepada siswanya. Disaat guru tidak mampu menjawab pertanyaan siswa, ia akan mengeluarkan jurus pembelaan diri dengan mengatakan bahwa konsep atau cara tersebut sudah ada dari sananya atau dari dahulu, jadi tidak usah dipertanyakan lagi. Guru yang seperti ini juga akan merasa kesal jika mendapat kritik dari guru lain, apalgi yang lebih muda atau junior. Ia merasa sudah lebih berpengalaman dan tidak pernah melakukan kesalahan dalam mengajar.

    Alangkah mengerikannya jika guru seperti diuraikan tadi masih mengajar siswa-siswa di sekolah. Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang pola berpikirnya masih berpusat dan berorientasi pada dirinya (guru). Sebagai akibatnya tentu siswa yang paling dirugikan. Indikatornya terlihat dari:

  • Siswa berperan sebagai obyek yang hanya menerima pengetahuan, tanpa dapat berinteraksi, bereksplorasi terhadap apa yang dipelajarainya.
  • Siswa belajar secara pasif, karena siswa tahu sesulit apa pun soal atau permasalahan yang diberikan guru, akan dibahas juga oleh gurunya.
  • Merasa tidak dihargai. Siswa yang pandai dan kreatif biasanya bisa menemukan cara penyelesaian sendiri, namun apa yang ia lakukan tidak mendapat penghargaan atau pujian yang dapat memacu kreativitasnya tersebut.
  • Tidak punya inisiatif belajar sendiri. Jika guru terus menerus menggunakan model belajar yang sama akan menimbulkan kebosanan, siswa jenuh disuguhi cara mengajar yang itu-itu juga. Akibatnya siswa menjadi malas untuk belajar.
  • Siswa menjadi insan yang tidak kreatif. Kreativitas yang tidak mendapat penghargaan yang semestinya akan hilang dan mati.
  • Siswa tidak terbiasa menerima perbedaan pendapat. Mereka terbiasa menerima pendapat yang sama dengan gurunya, perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman dan halangan dalam pencapaian tujuan.
  • Siswa menjadi plagiator, terbiasa mencontek jawaban.
  • Siswa tidak berani mengemukakan ide dan pendapatnya.
  • Siswa tidak terbiasa mengambil resiko terhadap pilihan atau solusi permasalahan yang ada, ia hanya menunggu solusi yang berasal dari gurunya.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sangat perlu kiranya bagi para guru untuk mengupayakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah langkah yang harus dilakukan guru agar pembelajaran di kelasnya berpusat pada siswa bukan pada gurunya?
  2. Bagaimanakah caranya agar siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika?


II. KAJIAN TEORI

Untuk menggugah kesadaran guru bahwa pusat pembelajaran adalah siswa bukan dirinya, diantaranya dengan menguasai beberapa hal berikut:

Lima karakteristik kompetensi menurut Spencer dan Spencer (Hamzah B. Uno, 2007: 63), yaitu motif, sifat, konsep diir, pengetahuan, dan keterampilan.

  1. Motif, yaitu sesuatu yang orang pikirkan dan inginkan yang menyebabkan sesuatu.

    Guru harus menyadari motifnya dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Untuk tujuan apa ia melakukan kegiatan pembelajaran? Apakah sekedar memenuhi tugas rutin semata, ataukah untuk memberikan pelayanan (dalam hal ilmu) yang terbaik menurut kebutuhan belajar para siswanya?

  2. Sifat, yaitu karakteristik fisik tanggapan konsisten terhadap situasi atau informasi. Contohnya: penglihatan yang baik adalah kompetensi sifat fisik bagi seorang pilot. Begitu halnya dengan kontrol diri, emosional dan inisiatif adalah lebih kompleks dalam merespon situasi secara konsisten. Kompetensi sifat ini pun sangat dibutuhkan dalam memecahkan masalah dan melaksanakan panggilan tugas sebagai seorang guru.
  3. Konsep diri, yaitu sikap, nlai, dan image diri seseorang. Contohnya kepercayaan diri. Kepercayaan atau keyakinan diri seseorang agar dia menjadi efektif dalam semua situasi adalah bagian dari konsep dri. Guru harus merasa percaya pada dirinya sendiri dilandasi dengan usaha dan kemauan belajar yang terus-menerus bahwa ia dapat memberikan dan melakukan yang terbaik untuk kegiatan pembelajaran bagi para siswanya.
  4. Pengetahuan, yaitu informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu. Hal ini mutlak dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru. Guru masa kini dituntut untuk tahu lebih cepat dari para siswanya agar tidak tertinggal ilmu dan informasi mengingat kini siswa dapat mencari informasi apa pun di internet dalam hitungan detik.
  5. Keterampilan, yaitu kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan fisik dan mental. Contoh kemampuan fisik misalnya keterampilan membuat dan menggunakan alat peraga. Sedangkan kemampuan berpikir analitis dan konseptual adalah berkaitan dengan kemampuan mental atau kognitif guru.

Memiliki ciri guru profesional (Hamzah B. Uno, 2007:64), yaitu menguasai:

  • Disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran.
  • Bahan ajar yang diajarkan.
  • Pengetahuan tentang karakteristik siswa.
  • Pengetahuan tentang filasafat dan tujuan pendidikan.
  • Pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar.
  • Penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran.
  • Pengetahun terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, meimpin, guna kelancaran proses pendidikan.

Meningkatkan tingkat komitmennya terhadap profesi.

Guru yang rendah tingkat komitmennya dapat dilihat dari beberapa hal berikut, misalnya:

  • Perhatian yang disisihkan untuk memperhatikan siswanya hanya sedikit.
  • Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya hanya sedikit.
  • Perhatiannya hanya pada jabatan atau kenaikan gaji dan golongan/pangkatnya saja.

    Sedangkan guru yang tingkat komitmennya tinggi ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut, diantaranya:

  • Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi.
  • Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya banyak. Bahkan tak segan mengeluarkan biaya tambahan namun masih dalam batas-batas kewajaran.
  • Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain, terutama para siswanya.

Meningkatkan kemampuannya menggunakan nalar.

Tingkat abstraksi atau kemampuan menggunakan nalar sangat penting dalam melaksanakan tugas-tugas keguruan. Harvey, Hunt, joice, dan Glickman (Hamzah B. Uno, 2007: 66) melalui berbagai studi menemukan bahwa guru dengan tingkatan kognitifnya tinggi, akan cenderung berpikir abstrak, imagunatif, kreatif, dan demokratis. Guru seperti ini akan lebih fleksibel dalam melaksanakan tugas, bahkan memiliki hubungan yang baik dengan siswa dan teman sejawatnya. Guru-guru yang tingkatan nalarnya tinggi dapat melihat berbagai kemungkinan dan mampu mencari berbagai alternatif model mengajar sehingga mereka umumnaya konsekuen dan efektif dalam mengahdapi siswa. Dengan model kompetensi menggunakan nalar ini guru bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Sebaliknya apabila tingkatan nalarnya rendah, guru hanya mampu menemukan salah satu alternatif saja. Akibatnya, guru merasa bingung ketika menghadapi masalah-masalah dalam keals dan tidak mampu berbuat banyak. Oleh karena itu mereka cenderung meminta petunjuk dalam melaksanakan tugasnya. Kompetensi menggunakan nalar dapat dilukiskan sebagai berikut (Gambar 1).


Gambar 1. Paradigma Kategori Guru (Hamzah B. Uno, 2007: 66)


Adapun pendapat-pendapat para ahli di bidang pendidikan yang memuat berbagai cara dan upaya efektif agar siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika diantaranya:

Menurut Robert E. Slavin (2008: 250), ada empat unsur utama dalam metode-metode pembelajaran kooperatif yang dianggap sebagai kunci keberhasilan mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:

1. Interaksi tatap muka: para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang.

2. Interdependensi positif: para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok.

3. Tanggung jawab individual: para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materi pelajaran.

4. Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil: para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka.

Beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif, diantaranya:

  • STAD (Student Tems-Schievement Divisions)
  • TGT (Tim-Game-Turnament)
  • TAI (Team-Assisted Individualization)
  • CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
  • GI (Group Investigation)
  • Co-op Co-op
  • Jigsaw
  • Jigsaw II
  • CI (Complex Instruction)

Penelitian mengenai metode-metode pembelajaran ini telah menemukan bahwa bentuk penghargaan yang diberikan kepada kelompok didasarkan pada pembelajaran individual semua anggota kelompok dapat meningkatkan pencapaian siswa lebih dari metode-metode individualistik dan memiliki pengaruh positif pada hasil yang diperoleh berupa hubungan sosial siswa daintaranya penerimaan kelompok terhadap kekurangan dan kelebihan anggota kelompok baik secara fisik maupun kemampuan belajarnya.


Menurut John A.Van de Walle (2008: 14, 31, 35) keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika dapat diupayakan dengan:

Memahami hal yang paling mendasar dalam matematika yaitu bahwa matematika dapat dipahami atau masuk akal.

  • Setiap hari siswa harus mendapatkan pengalaman bahwa matematika masuk akal.
  • Para siswa harus percaya bahwa mereka mampu memahami matematika.
  • Para guru harus menghentikan cara mengajar dengan memberitahu segalanya kepada siswa dan harus mulai memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami matematika yang sedang mereka pelajari.
  • Akhirnya, para guru harus percaya kepada kemampuan para siswa.

Membudayakan kelas matematika yang produktif

Ciri-ciri budaya kelas matematika yang produktif adalah:

  • Ide-ide adalah penting, tidak perduli milik siapa ide tersebut. Para siswa dapat memiliki ide-ide mereka sendiri dan membaginya dengan yang lain.
  • Ide-ide harus dipahami bersama-sama di dalam kelas. Setiap siswa harus menghargai ide-ide dari temannya dan mencoba memiliki dan memahaminya.
  • Kepercayaan harus dibangun dengan pemikiran bahwa membuat kesalahan tidak menjadi soal. Para siswa harus menyadari bahwa kesalahan adalah kesempatan untuk berkembang.

Pengembangan Pengajaran/Pembelajaranyang efektif,diantaranya dengan:

  • Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan pemahaman mereka.
  • Pengetahuan dan pemahaman adalah unik bagi setiap siswa.
  • Berpikir reflektif adalah unsur yang paling penting untuk belajar secara efektif.
  • Lingungan sosial budaya berpengaruh terhadap peningkatan perkembangan ide matematika siswa.
  • Model-model untuk ide-ide matematika membantu siswa mengungkapkan dan memperbincangkan ide-ide matematika.
  • Pembelajaran yang efektif merupakan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.


Menurut Richard I. Arends (2008: 108-138).

Menggunakan multimodel pembelajaran.

Menggunakan multimodel pembelajaran berarti bahwa guru mengambil beberapa model dari repertoar mengajarnya dan memilih berbagai pendekatan yang berbeda tergantung tujuan pembelajarannya. Hal itu berarti bahwa guru mampu menghubungkan dan menggunakan berbagai model yang berbeda secara terpadu selama kegiatan pembelajaran.

Dasar pemikiran untuk menghubungkan dan menggunakan berbagai model pengajaran ini berasal dari adanya keinginan untuk mencapai pembelajaran yang efektif dengan perbedaan individual siswa dalam hal kemampuan, intelegensi, dan perkembangan kognitifnya.

Dasar pemikiran lainnya adalah bahwa sampai saat ini tidak ada pendekatan maupun model pembelajarn tunggal yang secara konsisten lebih baik dari yang lainnya. Pilihan untuk menggunakan pendekatan atau model pembelajaran tertentu dan bukan yang lain bergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin diraih, dan kebutuhan akan keragaman berdasarkan karakteristik siswanya. Hal ini berarti bahwa guru harus siap menerapkan multimodel pembelajaran dan menghubungkanny model-model itu secara kratif selama proses pembelajaran berlangsung.

Mendiferensiasikan pembelajaran.

Pada pembelajaran secara tradisional, guru mengajarkan materi pembelajaran yang sama, dengan cara yang sama, untuk semua siswa. Akan tetapi, di kelas yang didiferensiasikan, guru berusaha memulai pengajaran berdasarkan minat, kebutuhan, kesiapan (di mana posisi siswa) siswa dan kemudian menggunakan banyak model mengajar dan penataan instruksional untuk memastikan bahwa siswa meraih potensinya.

Elemen-elemen diferensiasi:

  • Guru memfokuskan pada hal-hal yang esensial.
  • Guru memperhatikan perbedaan-perbedaan siswa.
  • Guru melihat asesmen dan pengajaran sebagai hal yang tak dapat dipisahkan, siswa diases dengan banyak cara.
  • Seluruh siswa berpartisipasi dalam pekerjaan terhormat.
  • Guru dan siswa berkolaborasi dalam pembelajaran.
  • Guru menyeimbangkan antara norma-norma kelompok dan individual.
  • Guru dan siswa bekerja bersama-sama secara fleksibel.
  • Guru memodifikasi isi, proses, dan produk.

    III. USAHA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDASARKAN PENGALAMAN

Guru tidak akan mampu melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas manakala ia belum menyadari siapa sebetulnya yang berperan sebagai subyek dalam pembelajaran tersebut. Oleh karenanya langkah utama dan sangat mendesak untuk dilakukan oleh guru adalah:

  1. Menumbuhkan kesadaran dirinya bahwa:
  • apa yang telah ia lakukan selama ini yang mungkin tanpa disadarinya telah mendzhalimi siswa-siswanya. Guru tidak sadar bahwa potensi dan krativitas siswa terhalang bahkan terkurung oleh aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran yang terlalu mendominasi dan tidak memberi banyak kesempatan bagi siswa mengekspresikan, mengapresiasi dan mengeksplorasi matematika, konsep matematika dan pembelajaran matematika.
  • Siswa adalah insan yang unik, tidak sama satu dengan lainnya. Siswa mempunyai potensi dan kemauan yang berbeda-beda. Apa yang telah dilakukan selama ini salah, yaitu menyamaratakan perlakuan dan pelayanan dalam kegiatan pembelajaran pada manusia-manusia yang unik.
  • Ia adalah 'Guru'. Guru adalah sosok yang seharusnya digugu dan ditiru. Itu berlaku dua atau tiga dekade lampau. Dalam artian sosok guru sebagai satu-satunya sumber dan pedoman siswa dalam belajar. Akibat negatif dari anggapan ini adalah sikap guru yang sombong, anti terhadap kritik dan saran yang bermanfaat, merasa diri paling pintar di kelas atau di sekolah sehingga tidak mau belajar hal-hal atau ilmu pengetahuan yang terus berkembang dalam hitungan detik. Dengan kata lain guru merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya.

    Guru seharusnya selalu merasa haus akan ilmu dan informasi baru yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan bidang ilmu yang diajarkannya. Selalu ingin tahu kemajuan apa yang diperoleh guru lain di tempat lain, agar ia tidak berjalan di tempat namun senantiasa maju bersama dengan para siswanya.

    Yang paling penting, guru seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi dan peka terhadap kebutuhan belajar para siswanya. Selalu ingin tahu penyebab ketidak berhasilan pembelajaran di kelasnya.

  • Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Tujuan pembelajaran yang sejatinya adalah bagaimana caranya agar jiwa yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran seperti keuletan, ketekunan, sifat pantang menyerah, kemampuan mengkomunikasikan ide dan gagasan, kemampuan berpikir kritis dan logis dapat terserap dalam prilaku keseharian siswa. Sebagai bekal dalam menghadapi masalah kehidupan yang sebenarnya.
  1. Menumbuhkan kepedulian dan kemauan untuk mendengar, melihat, dan merasakan apa yang dialami oleh para siwanya selama ini. Guru harus mencoba sekali saja, mengandaikan ia yang berada dalam posisi siswa. Setiap hari disuguhi gaya, cara dan model mengajar yang itu-itu juga. Aktivitas siswa terbatas pada mencatat konsep, rumus-rumus atau rangkuman materi dan contoh soal, kemudian mengerjakan soal latihan dan menerima sejumlah soal sebagai pekerjaan rumah. Lama-lama siswa merasa seperti robot yang sudah diberi program, tidak mampu berpikir kritis dan kreatif.
  2. Menyadari hakekat pembelajaran matematika yang sebenarnya. Dalam salah satu pertemuan kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika, Dr. Marsigit M.A. mengutip pendapat Ebutt & Straker (1995) bahwa hakekat matematika (sekolah) adalah:
  • Kegiatan mencari pola dan hubungan
  • Kegiatan pemecahan masalah
  • Kegiatan penelitian (investigasi)
  • Alat untuk berkomunikasi

Jika kita cermati keempat hakekat pembelajaran matematika tersebut dapat tercapai dalam suatu bentuk kegiatan atau aktivitas. Tentunya bukan aktivitas guru melainkan aktivitas siswa yang dibantu, difasilitasi, dan dilayani kebutuhan belajarnya oleh guru. Jadi kegiatan dalam pembelajaran matematika bukan semata-mata mengerjakan soal kemudian jika sebagian siswa telah mampu menjawabnya guru merasa telah usailah tugasnya dalam melaksanakan pembelajaran matematika.

  1. Mau berubah ke arah yang lebih baik. Kesadaran tanpa dibarengi oleh kemauan untuk berubah adalah mimpi di siang hari. Kemauan tanpa diiringi tindakan nyata juga hanya hayalan belaka. Oleh karenanya, marilah bersama-sama guru-guru matematika di mana pun kita mulai perubahan itu.
  2. Mencanangkan dalam dirinya untuk dapat mencapai kualitas Kedua dalam Matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika.
  3. Bersemangat dan bersabar dalam perubahan. Singkirkan budaya instan. Perubahan positif dalam hal ini mengubah orientasi pembelajaran dari berorientasi pada guru (teacher-oriented) menjadi berorientasi pada siswa (student-oriented) bukan hal mudah yang dapat dicapai dalam waktu satu atau dua tahun. Mungkin dibutuhkan waktu puluhan belasan bahkan puluhan tahun baru dapat tercapai.
  4. Konsisten/istiqomah dalam tekad dan usahanya. Dalam artian terus berupaya mencari cara-cara dan terobosan-terobosan baru yang inovatif. Salah satu upayanya dengan terus mengupdate ilmu pengetahuan dan informasi seputar matematika, model-model pembelajaran, minat-minat siswa terhadap topik-topik matematika, dan paradigma-paradigma baru dalam pembelajaran matematika.
  5. Membentuk dan memberdayakan komunitas guru matematika yang dapat bekerja sama untuk menuju perubahan secara global. Bersama-sama lebih baik dari pada sendirian. Dengan terbentuknya komunitas-komunitas guru matematika yang peduli dan mau melakukan sesuatu yang berguna (sekecil apa pun itu) untuk kemajuan dunia pendidikan, kegiatan pembelajaran di sekolah dan terutama memajukan para siswanya, maka diharapkan perubahan paradigma orientasi pembelajaran dapat dicapai dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan. Wujudnya dapat memberdayakan komunitas guru yang sudah ada misalkan MGMP tingkat sekolah, kecamatan, maupun kabupaten.

Setelah timbul, tumbuh dan berkembangnya kesadaran diiringi dengan langkah nyata untuk berubah menuju kualitas Kedua, selanjutnya guru melakukan berbagai inovasi dan kreasi untuk memposisikan siswa di tempat yang semestinya yaitu sebagai subyek pembelajaran, sebagai pusat dan orientasi dalam pembelajaran matematika. Manakala siswa sudah merasa dirinya sebagai subyek, pusat dan orientasi dalam kegiatan pembelajaran di kelasnya, mereka tidak akan pasif tapi menjadi berperan aktif untuk bersama-sama mencapai tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan guru dalam melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika, diantaranya:

a. Tahap Persiapan:

Merancang dan menyusun sumber belajar yang tepat, efektif dan efisien disesuaikan dengan minat, kondisi, potensi dan karakteristik heterogen para siswanya. Dalam hal ini guru harus berupaya mencari berbagai referensi baik berupa buku, jurnal, media massa, media elektronik, dan internet.

Merancang dan menyusun LKS (Lembar Kerja Siswa). Menurut Dr. Marsigit M.A. dalam blognya (http://www.powermathematics.blogspot.com) LKS tidak hanya merupakan kumpulan soal tetapi dapat merupakan sumber informasi, teori atau penemuan terbimbing. LKS juga tidak harus selalu satu macam, tetapi dapat dikembangkan banyak ragam dalam satu kali pertemuan.

Menyusun dan membuat alat peraga yang murah, mudah digunakan, praktis dan bahan-bahan pembuatnya mudah diperoleh di sekitar lingkungan siswa. Contoh: dalam pembelajaran bilangan bulat dapat digunakan alat peraga berupa kartu domino bilangan bulat, permainan ular tangga bilangan bulat, kaos dua warna, kelereng dua warna, manik-manik dua warna atau dengan menggunakan kedua tangan siswa sendiri (Jari Hitam Putih - penulis).

Memilih dan menentukan skema pembelajaran yang sesuai dengan minat, kondisi, potensi dan karakteristik heterogen para siswanya.

Memilih model pembelajaran yang variatif seperti model pembelajaran kooperatif, CTL (Contextual Teaching Learning), PBL (Problem Bassed Learning), RME (Realistic Mathematics Education), Open-ended, dan sebagainya. Guru harus memiliki pengetahuan dan kemampuan mengaplikasikan model-model pembelajaran yang dipilihnya. Di sini guru harus pandai dan cermat serta tanggap terhadap kondisi di kelas, harus dapat cepat mengantisipasi kemungkinan model pembelajaran yang dipilihnya tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Guru harus mampu mencari solusi dengan tidak ngotot menggunakan satu model pembelajaran saja. Karena model pembelajaran yang terbaik bagi siswa adalah yang paling akomodatif terhadap kebutuhan belajar siswa.

Merancang dan mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau Lesson Plan yang tepat dan sesuai. Guru dan siswa dapat bersama-sama merancang dan memilih komponen-komponen dalam RPP disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan belajar siswa, misalnya dalam penentuan dan pemilihan media pembelajaran, alat peraga, model pembelajaran dan jenis penilaian.

Langkah/strategi dalam menyiapkan RPP adalah:

  • Menentukan materi pembelajaran yang akan disiapkan RPPnya.
  • Menentukan standar kompetensi pembelajaran.
  • Menentukan kompetensi dasar.
  • Menentukan indikator.
  • Menentukan tujuan pembelajaran.
  • Menentukan kemampuan prasyarat.
  • Menyiapkan materi pelajaran yang akan dibahas.
  • Menentukan pendekatan dan metode pembelajaran.
  • Merancang dan menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
  • Memilih sumber belajar yang relevan dan sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran.
  • Menentukan kriteria dan acuan penilaian/evaluasi.
  • Membuat instrumen yang sesuai dengan kriteria penilaian/evaluasi.

Melakukan kegiatan assesment yang sesuai dengan kondisi dan potensi siswa. Assesment biasanya diartikan sebagai penilaian. Sesungguhnya yang dimaksud assesment atau penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah tindakan yang telah dikerjakan sebelumnya cukup berharga atau tidak (Direktorat PLP, 2004: 5). Jadi pada dasarnya yang dinilai itu adalah program, yaitu suatu kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya, lengkap dengan rincian tujuan dari kegiatan tersebut. Aspek yang dinilai ada dua yaitu tingkat keberhasilan dan tingkat efisiensi pelaksanaan program pembelajaran.

Guru bersama-sama siswa memilih dan menentukan metode dan teknik assesment, diantaranya:

  • Penilaian tertulis (paper-pencil) baik soal pilihan ganda maupun uraian.
  • Tes praktek (performance test).
  • Penilaian produk.
  • Penilaian proyek.
  • Peta perkembangan, penilaian diri siswa.
  • Penilaian afektif.
  • Penilaian portofolio.

b. Tahap Pelaksanaan

  • Guru berperan sebagai pelayan dan fasilitator tapi tidak mendominasi kegiatan pembelajaran.
  • Guru memantau kegiatan pembelajaran, melihat proses pembelajaran.
  • Guru memberi penjelasan jika siswa membutuhkan. Hal ini penting dilakukan agar siswa terbiasa menjadi siswa otonom yang mandiri tanpa harus selalu meminta bimbingan dan bantuan guru.
  • Guru memberi penghargaan atau pujian bagi siswa atau kelompok yang telah melakukan tugas-tugasnya dengan baik.
  • Guru mengatur ritme atau durasi waktu pembelajaran, tetapi jika diperlukan dapat memberi toleransi waktu sesuai dengan kebutuhan selama kegiatan pembelajaran.
  • Guru memberi kesempatan siswa untuk mempresentasikan hasil karya individu atau karya kelompok di depan teman-temannya agar memiliki mental berani mengemukakan pendapat di depan umum, berani menerima kritik dan saran.
  • Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau kelompok yang berani tampil.

c. Tahap Evaluasi

  • Siswa menentukan penilaian terhadap siswa dan kelompok lainnya, dilakukan secara silang. Masing-masing siswa menilai siswa atau kelompok lain.
  • Guru memiliki penilaian tersendiri yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk penilaian pada akhir kegiatan pembelajaran.
  • Guru membuat catatan-catatan penting yang berisi hal-hal penting seperti kejadian-kejadian lucu, aneh atau hal-hal menarik selama pembelajaran berlangsung.
  • Guru mencatat pertanyaan, komentar-komentar siswa berkenaan dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan.

d. Refleksi

  • Guru meminta pendapat, kesan atau komentar terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Jika siswa belum terbiasa bersikap terbuka, guru dapat melakukannya dalam bentuk angket sederhana yang diisi oleh siswa tanpa disertai identitas siswa.
  • Guru dan siswa bersama-sama mengevaluasi kelemahan dan kelebihan dari kegiatan yang telah dilaksanakan.
  • Guru membacakan catatan-catatan yang telah dibuatnya disertai komentar yang menarik diselingi humor, menjawab pertanyaan yang belum tuntas terjawab, atau bahkan memberikan umpan pertanyaan agar pemahaman siswa terhadap kegiatan yang telah dilakukan lebih baik lagi, di hadapan para siswanya untuk menciptakan keakraban dan rasa kebersamaan antara guru dan siswa.
  • Guru bersama-sama siswa, berdasarkan hasil evaluasi kegiatan yang telah dilakukan, menyusun dan merancang kegiatan pembelajaran pada pertemuan atau topik berikutnya.


IV. PENUTUP

Sungguh bukan suatu pekerjaan mudah untuk menjadi seorang guru matematika yang dapat memahami keinginan, minat dan kebutuhan siswa yng sangat heterogen. Dengan orientasi pembelajaran yang telah terbiasa berpusat pada guru, membuat guru terlena, merasa diri paling hebat, paling pintar terutama di hadapan murid-muridnya. Sementara bukan perkara mudah juga merubah kebiasaan yang mungkin (hampir) mengendap dalam jiwa seorang guru.

Kendala lain adalah adanya image buruk bagi seorang guru matematika yang digambarkan sebagai sosok bagaikan seorang hakim yang akan membacakan vonis bagi terdakwa. Ruang kelas bagi siswa tak ubahnya ruang sidang di mana mereka harus mau maju ke depan mengerjakan perintah gurunya, menjawab pertanyaan yang jika salah akan menjadi hal yang memalukan bagi siswa di hadapan teman-temannya. Lantas apakah guru harus pandai melawak untuk menghilangkan image tersebut? Tentu tidak, masih banyak cara yang lebih cerdas untuk dapat merubah image buruk guru matematika di hadapan siswa tanpa harus merubah pribadi guru jadi pelawak. Misalnya dengan membina hubungan keterbukaan berupa dialog dengan siswa. Penampilan guru yang santai, murah senyum, tidak mudah marah, mau menerima kekhasan, keunikan prilaku siswa yang notabenenya adalah para remaja yang ingin diterima apa adanya. Namun guru tetap menjaga wibawa dan berlaku adil serta memberi suri tauladan yang baik bagi siswa.

Kesulitan, kendala dan penghalang dalam merubah paradigma belajar lama yang berorientasi pada guru (teacher-oriented) menjadi berorientasi pada siswa (student-oriented) tadi dapat kita upayakan untuk dapat diatasi dengan menumbuhkan kesadaran para guru matematika akan kesalahan orientasi pada kegiatan pembelajaran di kelasnya, menyadari keunikan dan kekhasan para siswanya, peduli pada kebutuhan belajar siswa, menyadari tujuan pembelajaran matematika yang sesungguhnya, mempunyai kemauan untuk berubah, memulai perubahan tersebut dimulai secara individu kemudian bersama-sama dengan guru-guru lain, serta senantiasa meningkatkan kemampuan pedagogik, profesional, sosial dan personal.

Selanjutnya yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana upaya guru dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi usaha-usahanya dalam melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika. Tahap persiapan tercermin dari sejauh mana upaya yang dilakukan guru secara sungguh-sungguh untuk mempersiapkan:
1. Sumber Belajar
2. LKS (Lembar Kerja Siswa)
3. Alat Peraga
4. Skema Pembelajaran
5. RPP
6. Kegiatam Asesmen

Sebagai upaya guru untuk merubah image buruk guru matematika dan upaya memberi rasa nyaman, aman dan menyenangkan bagi siswa, guru sebaiknya berupaya melakukan evaluasi dan refleksi berupa dialog bersama siswa baik mengenai assesment, maupun kesan dan komentarnya terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.Akhirnya, diharapkan guru dan siswa dapat bekerja sama, berkolaborasi dalam merancang, memilih kegiatan pembelajaran yang diinginkan yang dapat mengakomodasi potensi dan kebutuhan belajar siswa yang beragam.

Semoga upaya yang kita lakukan bersama dapat menjadi satu langkah maju untuk mencapai kualitas Kedua dalam matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika. Amiin.


V. DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard I. 2008. Learning To Teach (Belajar untuk Mengajar). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika: Hakikat Penilaian. Jakarta: Direktorat PLP.

Marsigit. 2008. Perencanaan Pembelajaran Matematika. http://www.powermathematics.blogspot.com. [Diakses tanggal: 26 Nopember 2008].

Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Lerning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Van de Walle, John A. 2008. Pengembangan Pengajaran Matematika Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Erlangga.

Share:

Sabtu, Desember 27, 2008

Guru Matematika yang Profesional: Sebuah Tanggapan

Dr. Marsigit M.A. dalam blognya Pembelajaran Matematika (http://pbmmatmarsigit.blogspot.com) menyampaikan bahwa indikator Guru Matematika yang Profesional terdiri dari 37 butir. Saya berpikir apakah jumlah indikator tersebut terlalu banyak atau malah sebaliknya terlalu sedikit. Barangkali masih banyak indikator lain yang belum beliau tuliskan? Saya belum bisa mengetahui jawabannya. Tetapi menurut saya sendiri yang masih harus banyak belajar dari ilmu dan pengalaman-pengalaman beliau, ke-37 indikator tersebut benar adanya memang seharusnya dapat dipenuhi dalam rangka meniti upaya untuk menjadi guru matematika yang profesional. Namun saya merasa masih sangat jauh dari predikat tersebut. Entah berapa butir atau mungkin hanya sebutir yang sudah (sedang) saya upayakan.

Menurut versi saya sendiri, guru matematika yang profesional adalah guru matematika yang ikhlas dan konsisten (istiqomah) dalam menjalankan tugas profesinya, punya kemauan untuk terus belajar, serta berkemauan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap dirinya.

Guru matematika yang profesional selalu ikhlas dan istiqomah dalam menjalankan tugas profesinya. Setiap pekerjaan, seringan apa pun pasti mempunyai tantangan atau kendala, apalagi profesi sebagai guru. Kendala yang dihadapi dari hari ke hari bukan semakin sedikit malah makin bertambah. Kenyataan yang terjadi bahwa semakin majunya perkembangan jaman bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi dengan semakin majunya teknologi informasi sangat bermanfaat untuk meringankan tugas guru dalam kegiatan pembelajaran seperti memperoleh sumber atau bahan belajar yang beragam, metoda pembelajaran yang bervariasi, media dan alat pembelajaran, dan sebagainya. Akan tetapi ternyata perkembangan jaman juga membawa permasalahan yang lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Tantangan yang dimaksud diantaranya:

  • Perubahan persepsi sosok guru di mata siswa, guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang serba tahu, serba bisa, para siswa sekarang lebih memposisikan sosok guru sebagai mitra belajar.
  • Tuntutan dan harapan yang semakin kuat dari (sebagian) orang tua siswa terhadap peran guru di sekolah terkadang menambah beban berat bagi guru. Misalnya, orang tua berharap agar guru mampu mencerdaskan, membimbing, mengubah prilaku buruk siswa, serta mampu membuat siswa siap bersaing di dunia kerja.
  • Peran media massa maupun elektronik yang tidak imbang dalam menyajikan berita. Terlalu mengekspos berita-berita penyimpangan atau kesalahan guru, misalnya tindak kekerasan di sekolah, membuat para guru harus lebih berhati-hati dalam melangkah. Karena kesalahan yang dilakukan dapat dicap sebagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia). Sementara peran guru yang berprestasi dan berhasil dalam mendidik siswa tidak banyak diketahui masyarakat.
  • Berlimpah ruahnya informasi baik di buku, majalah, koran, TV, radio, maupun internet membuat guru harus pandai memilah dan memilih informasi yang benar-benar bermanfaat dan menyehatkan bagi pikiran dan jiwanya. Tak sedikit guru yang menjadi pencandu bacaan dan tontonan porno. Bagaimana mungkin guru yang demikian dapat berbicara masalah moral di hadapan siswanya sementara ia sendiri tidak mampu memberikan contoh yang baik, guru-guru yang demikian akhirnya akan menjadi guru yang munafik.

Lalu bagaimana implikasinya terhadap guru? Segala tantangan yang ada seyogyanya tidak menjadikan guru mandeg, berhenti berusaha, namun malah dijadikan sebagai ladang amal (meminjam istilah Aa Gym), menjadikan tugasnya mendidik siswa sebagai usahanya meningkatkan kualitas diri dengan terus berusaha melakukan hal-hal bermanfaat yang dapat ia sumbangkan sekecil apa pun itu untuk kemajuan para peserta didik, dunia pendidikan, dan secara langsung ataupun tidak, berimbas juga bagi kemajuan dirinya. Selanjutnya konsisten dengan usahanya disertai kemampuan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian ia akan merasa ikhlas akan apa yang dikerjakannya, tidak merasa terbebani dan selalu optimis.

Guru matematika yang profesional berkemauan kuat untuk terus belajar. Ia tidak akan merasa puas dengan ilmu yang telah dimilkinya. Semakin banyak tahu akan semakin merasa lebih banyak hal yang tidak ia ketahui. Khususnya dalam dunia matematika dan sains, teori-teori lama bisa terbantahkan oleh teori-teori maupun penemuan-penemuan baru. Jika seorang guru matematika tidak mau belajar dalam arti tidak mau mengupdate ilmu dan informasi kematematikaannya, ia akan tertinggal oleh guru lain atau bahkan oleh siswanya sendiri.

Bagaimana caranya agar guru mau selalu belajar? Pertama, ingatlah bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Hebatnya kita dihadapan siswa dengan 'serba bisa' membahas soal yang sulit misalnya, adalah karena sebelumnya telah belajar atau mempersiapkan diri untuk 'bisa' mengerjakan soal tadi. Dengan kata lain, guru telah mendapatkan pengetahuan lebih dahulu dari siswa. Dengan semakin cepatnya mengakses informasi dan ilmu bukan hal mustahil suatu ketika kita akan tertegun bahkan tergagap tatkala siswa menyodorkan permasalahan yang tidak kita ketahui. Kedua, bukankah ada jaminan dari Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Mujadah ayat 11 yaitu "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Sedangkan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya menjelaskan, "Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan menunjukinya satu jalan di antara jalan ke jannah." (Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Semoga akan menjadi daya dorong yang kuat untuk kita agar memiliki kemauan yang kuat untuk terus belajar.

Guru matematika yang profesional mau melakukan evaluasi dan refleksi terhadap dirinya. Tak ada guru yang tidak pernah melakukan kesalahan. Entah disadari atau tidak, pasti pernah suatu ketika berbuat salah baik kesalahan dalam berprilaku maupun kesalahan dalam menyampaikan konsep, materi, contoh, atau salah dalam menyelesaikan soal. Bagaimana kalau kesalahan-kesalahan guru selama kegiatan pembelajaran tidak segera diperbaiki? Tentunya siswa yang akan dirugikan dan disesatkan. Itulah sebabnya, betapa pentingnya guru melakukan evaluasi dan refleksi. Evaluasi diri dapat menilai sudah sejauh mana usaha yang dilakukan, adakah kendalanya, bagaimana hasilnya, bagaimana tanggapan siswa, adakah yang merasa tidak nyaman dengan pembelajaran yang dilaksanakan, apa akibatnya bagi siswa, dan apa akibatnya bagi guru.

Setelah guru melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakannya, ia dapat merefleksikan dirinya, ia dapat merancang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan, menambah hal-hal yang positif untuk upaya peningkatan kualitas pembelajaran matematika, peningkatan pelayanan bagi kebutuhan belajar siswanya serta peningkatan bagi kualitas dirinya. Kualitas Kedua tentu saja.

Jika saya coba hubungkan ciri guru matematika yang profesional versi saya dengan hasil telaah Pak Dr. Marsigit M.A. barangkali akan seperti berikut ini:

  • Guru matematika yang ikhlas dan konsisten (istiqomah) dalam menjalankan tugas profesinya, dengan indikatornya nomor: 4 – 12, 16 – 20, 27, 30, 40 (31) dan 44 (35) .
  • Guru matematika yang punya kemauan untuk terus belajar, dengan indikatornya nomor: 1 – 3, 15, 21, 23, 24, 29, 41 (32), 42 (33), 43 (34), dan 45 (36).
  • Guru matematika yang punya kemauan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap dirinya, dengan indikatornya nomor: 13, 14, 22,25, 26 28, dan 46 (37).

Akhirnya, semoga sebanyak apa pun indikator yang diperlukan untuk mencapai suatu predikat guru matematika yang profesional tidak menjadikan nyali kita sebagai guru matematika menjadi ciut. Semuanya berpulang kepada diri guru masing-masing. Adakah kemauan untuk berusaha mencapainya, adakah upaya walau pun baru sedikit, untuk melakukan yang terbaik bagi para siswanya dalam kegiatan pembelajaran matematika. Marilah kita semuanya, sebagai guru matematika, berupaya untuk berdaya. Memberdayakan diri kita untuk kemajuan peserta didik, dunia pendidikan, dan dunia matematika. Serta meningkatkan kualitas diri ke kualitas Kedua. Semoga.

Share:

Translate

Twitter