Sebuah blog pembelajaran

*

The conversion rate of information into knowledge grows in proportion to the involvement of the learner.

**

The Importance of Communication in E-Learning course

***

How Digital Learning Technology will Change in The Next Decades

****

Learning technology in teaching. High Tech Science or Good Craft?

*****

Learning Culture

******

5 Fiture Trends of Learning and Development

Tampilkan postingan dengan label Sertifikasi Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sertifikasi Guru. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 22, 2018

Multi Subject Teaching (MST)


Penjelasan singkat dari Multi Subject Teaching atau MST  dapat diartikan sebagai penambahan kewenangan mengajar bagi guru mapel umum di jenjang SD dan SMP (di SMK dikenal dengan istilah program keahlian ganda). 
MST merupakan salah satu program baru dari Dirjen Pembinaan Guru Dikdas, Dirjen GTK Kemdikbud,  yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kompetensi guru agar dapat mengajar mata pelajaran lain yang serumpun dengan mapel sesuai kualifikasi yang telah dimiliki guru sebelumnya. Hal ini berarti guru yang telah mengikuti program MST dapat mengajar lebih dari 1 mapel.
Program MST diharapkan menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan atas kekurangan guru pada mapel-mapel tertentu. Menurut ibu Sri Wardhani (Widya Iswara PPPPTK Matematika),  saat ini di Indonesia kekurangan sekitar 900 ribu guru pada SD, SMP, dan SMA.
Berdasarkan urutan jumlah kekurangan guru mapel yang terbanyak sementara ini adalah Guru Kelas dan PJOK pada jenjang SD, dan  ada 6 mapel serta 1 non mapel pada jenjang SMP yaitu:
1. Bahasa Indonesia
2. Matematika
3. IPA
4. PKn
5. PJOK
6. Seni Budaya
dan BK (non mapel).
Adapun pelaksanaan program MST pada tahap awal untuk 6 mapel dan BK (jenjang SMP) serta Guru Kelas dan PJOK (jenjang SD). Pelatihan guru akan dilakukan selama 6 bulan dengan pola IN 1 - ON 1 - IN 2 - ON 2 - IN 3. 
Guru yang telah mengikuti program MST akan mendapatkan sertifikat sebagai bukti bahwa sudah layak untuk mengajar mapel lain. Misalkan seorang guru matematika yang telah lulus pada program MST mapel IPA, maka ia memiliki kewenangan untuk mengajar mapel IPA. 
Kedepannya sertifikat yang diperoleh usai mengikuti pelatihan program MST diharapkan dapat diperhitungkan untuk pemenuhan jumlah jam wajib bagi guru yang telah mengikuti program sertifikasi. 
**Disarikan dari nara sumber kegiatan Uji Keterbacaan Modul Multi Subject Teaching.
Jakarta, 20 Juli 2018
The BnB Hotel




Tulisan ini telah dimuat di Kompasiana
Share:

Senin, September 16, 2013

Guru dan KTI, TTM atau TTT?


Pinjam istilah dalam bahasa gaul, TTM (Teman Tapi Mesra), dan TTT (Teman Tapi Terpaksa), haha…. Istilah terakhir tadi hasil karangan saya. Bagaimana Guru dan KTI (Karya Tulis ilmiah) dikaitkan dengan TTM dan TTT? Bisa-bisa sajah koq. ^_*
Kala harus membuat klasifikasi hunungan antara guru dan KTI, ya itu tadi ada dua kategori yaitu TTM ada yang TTT. Guru kategori TTM tidak merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya karena ia sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dengan cara yang tak dapat dibayangkan. Ia senang mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat bagi peningkatan kemampuannya dalam melayani kebutuhan belajar siswa. biasanya guru dengan kategori TTM senang menelisik kekurangan dan kelebihan pembelajaran yang telah dilakukannya, kemudian berupaya untuk memperbaiki kekurangan tersebut dengan membaca, meminta pendapat orang lain atau guru lain, bertanya kepada pakar pendidikan, selanjutnya melakukan penelitian agar guru lain yang memiliki permasalahan yang sama dapat melakukan perbaikan dengan cara yang kurang lebih serupa. Mungkin penelitian yang dilakukan guru kategori TTM ini didasari adanya Permen Menpan Nomor 16 Tahun 2009 tentang angka kredit jabatan dan peraturan bersama Mendiknas dan Kepala Kepegawaian Negara Nomor 3/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010. Namun hal tersebut hanya sebagai stimulator saja dan bukan faktor utama bagi penulisan KTI.

Sumber kutipan dari SINI

Lain dengan karakteristik hubungan guru dan KTI pada kategori TTT. Diantaranya: acuh tak acuh terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran yang diampunya. Sukar menerima saran dan pendapat dari pihak (baca: guru) lain, merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya, dan kenaikan pangkat/jabatan menjadi alasan utama untuk melaksanakan penelitian dan menulis KTI. Merasa bahwa keharusan guru untuk mengembangkan kemampuannya secara berkelanjutan merupakan beban dan suatu keterpaksaan yang menjengkelkan.
Nah, pada kategori mana hubungan mayoritas guru Indonesia dengan KTI? Bagaimana dengan penulis sendiri, apakah sudah TTM atau masih TTT? Sedang berupaya supaya jadi TTM. Hehehe….semoga.

Edited from my Kompasiana






Share:

Minggu, Juni 12, 2011

Jadwal dan Daftar Peserta PLPG Tahun 2011 Rayon 34 (UNPAS) Jawa Barat


Bagi rekan-rekan guru yang membutuhkan informasi mengenai daftar peserta PLPG tahun 2011 untuk Rayon 34/UNPAS (untuk Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Karawang, Purwakarta, Subang, dan Cimahi) silahkan download pada link berikut ini:

3. Download Daftar Peserta PLPG Periode 2 (23 Juni - 2 Juli 2011)
5. Download Daftar Peserta PLPG Periode 4 (13 - 22 Juli 2011)
6. Download Daftar Peserta PLPG Periode 5 (23 - 29 Juli dan 3 - 6 Agustus 2011)
7. Dowload Daftar Peserta PLPG Periode 6 (7 - 16 Agustus 2011)
8. Download Daftar Peserta PLPG Periode 7 (18 - 27 Agustus 2011)
9. Download Daftar Peserta PLPG Periode 8 (5 - 14 September 2011)

Lokasi di:
1. Rindam III Siliwangi, Jl. Menado No. 4 Bandung
2. Hotel Bumi Kitri, Jl. Cikutra No. 276A Bandung
3. Hotel Augusta, Jl. Surapati No. 203 Bandung
4. Wisma Taruna, Jl. Lengkong Besar No. 64B Bandung
5. Hotel Bandung Permai, Jl. Jend. Ahmad Yani No. 308 Bandung


Sumber:
http://sergur34-unpas.org
http://disdik.subang.go.id/

Updated:
Minggu, 4 September 2011
Pukul 10.15 WIB
Share:

Translate

Twitter