Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Minggu, Mei 03, 2015

Perlahan Tapi (Insya Allah) Pasti

Tulisan berikut merupakan postingan lawas saya di Kompasiana yang telah saya revisi dan rasanya masih relevan dengan semangat KSGN (Komunitas Sejuta Guru Ngeblog) yang tengah menyelenggarakan lomba (2 s.d. 20 Mei 2015) dengan tema: "Bangkitlah Pendidikan Di Negeriku Tercinta".

Banyak faktor yang berpengaruh dalam rangka membangkitkan kualitas pendidikan di Indonesia yang selama ini dinilai masih tertinggal dari negara-negara lain. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah: faktor tujuan, faktor guru (pendidik), faktor siswa, faktor alat, dan faktor masyarakat (lingkungan). Setiap faktor yang berpengaruh membutuhkan pembahasan tersendiri namun untuk tulisan kali ini akan membidik faktor guru terlebih dahulu. Selain karena penulis seorang guru juga karena guru merupakan sosok sentral dalam terpuruk dan bangkitnya mutu prndidikan di suatu negara.

Dalam Modul 3 Diklat Online P4TK Matematika yang telah saya baca, ada tiga level atau tingkatan guru dalam paparan materi sebagaimana dinyatakan Sugiyama (2008) yang dikutip Sutarto Hadi (2009), yaitu:

  1. Guru level 1 yang hanya mengajari siswanya untuk menghafal dan mengingat saja.
  2. Guru level 2 yang berusaha membantu atau memfasilitasi siswanya agar memahami ide-ide matematika.
  3. Guru level 3 yaitu para guru yang secara pelan tetapi pasti akan terus berusaha untuk membantu atau memfasilitasi siswanya agar menjadi siswa yang mandiri.

Sesungguhnya kesadaran mengenai peran saya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran sudah ada dalam diri saya serta keinginan agar siswa saya menjadi siswa yang mandiri menjadi keinginan yang sangat saya dambakan. Namun menghadapi realita yang ada di sekolah, dimana input siswa merupakan siswa yang tidak lolos masuk ke sekolah lain yang lebih representatif dan difavoritkan oleh siswa menjadi salah satu hal yang terkadang menciutkan harapan saya. Bagaimana tidak, saya sudah sering mencoba metoda pembelajaran kooperatif namun hasilnya belum memuaskan dalam arti masih saja ada siswa yang pasif dan sangat tergantung kepada temannya dalam mengerjakan tugas-tugas baik individu maupun kelompok.

Melakukan teknik bertanya yang walaupun belum semuanya sesuai dengan kriteria pertanyaan efektif, lebih sering tak bersambut. Hanya beberapa siswa yang menyambut pertanyaan dengan jawaban, sisanya melongo. Saya ubah strategi dengan lebih banyak memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya kepada guru (saya) hasilnya lebih parah, tidak setiap pertemuan ada siswa yang mau bertanya. Miris rasanya kalau harus membuka kekurangan siswa saya karena secara tidak langsung hal tersebut membuka kenyataan bahwa saya merasa menjadi guru yang tidak berdaya menghadapi kondisi seperti itu. Untungnya saya tidak sendirian, guru-guru mata pelajaran lain ternyata mengeluhkan hal yang sama, kecuali guru mata pelajaran olah raga.

Namun  saya merasa masih beruntung karena semangat untuk terus memperbaiki diri sebagai seorang guru tetap tumbuh.  Saya sadar, mungkin saya memang bukan seorang guru yang hebat bagi mereka, siswa saya yang sering tidak konek tersebut. Oleh karena itu sejak tahun 2012 saya mengikuti setiap diklat online yang saya ketahui. Harapannya agar mendapat wawasan baru mengenai strategi yang dapat digunakan agar siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran matematika.  Apalagi tantangan yang makin beragam serta adanya tuntutan dalam Kurikulum 2013 dimana guru diharapkan menjadi ‘model’ atau ‘teladan’ selama proses pemecahan masalah yang sedang berlangsung dengan dimilikinya (1) pengetahuan matematika, (2) strategi pemecahan masalah, (3) kemampuan berpikir yang dapat berupa kemampuan benalar [Induksi (Analogi dan Generalisasi) serta Deduksi]. Proses peningkatan kualitas seorang guru sudah selayaknya untuk terus ditingkatkan.

Meskipun tantangan di sekitar saya masih ada, diantaranya komentar yang dapat melemahkan semangat saya dari rekan-rekan di sekolah seperti: “Sudahlah bu percuma ikutan diklat online juga karena walaupun hasilnya diimplementasikan, sekolah kita serba terbatas fasilitasnya dan siswa kita merupakan siswa yang mayoritas berkemampuan belajar rendah.”, “Sekolah kita dikenal oleh guru di daerah lain bukan karena siswanya berprestasi tapi hanya segelintir guru yang aktif dan berprestasi.” Duh…

Namun saya tetap maju. Bukan untuk menyombongkan diri, namun untuk memberi “teguran” halus bagi rekan-rekan yang tak ingin keluar dari zona nyaman, untuk memberi contoh bagi guru-guru muda agar semangat dan idealisme mereka tak pupus, untuk memberi contoh kemandirian belajar bagi siswa saya bahwa belajar bisa dimana saja, kepada siapa saja serta kapan saja, dan utamanya untuk diri saya sendiri. Meskipun kondisi kesehatan saya yang sering nge-drop karena mengidap penyakit AIHA (Auto Immune Hemolitic Anemia) sehingga baberapa kesempatan emas terpaksa tidak dapat diikuti (seperti panggilan Diklat PKB dari PPPPTK Matematika) dan beberapa even lomba bagi guru, saya tetap punya kesempatan untuk menambah ilmu di diklat online.

Jadi, pada level berapakah keberadaan saya? Silahkan Anda simpulkan sendiri. Hehe..... Salam pendidikan!

0 komentar: