Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Senin, Mei 04, 2015

Pantauan Hari Pertama UN SMP 2015

Tadi pagi sebelum memasuki ruang ujian penulis sempat menduga-duga mengenai seputar pelaksanaan UN terutama jumlah paket naskah soal. Rupanya penulis tak sendiri karena pengawas lain pun menanyakan hal yang sama. Untungya sebelum UN hari pertama dimulai sempat diberikan panduan singkat oleh kepala sekolah tempat penulis mengawas UN yaitu bahwa kemungkinan naskah soal UN SMP tahun 2015 sebanyak 5 paket yang berbeda. Info yang sangat melegakan bagi pengawas UN. Lho memangnya kenapa?

Tugas seorang pengawas UN tidaklah semudah seperti yang terlihat. Tugas ini benar-benar mempertaruhkan masa depan peserta didik. Nilai UN peserta didik berawal dari tangan para pengawas UN. Hiiiyy...seram juga ya kedengarannya. Betapa tidak, seandainya pengawas melakukan kesalahan teknis dalam membagikan naskah UN akan berakibat fatal. 

Misalnya saja, mulai tahun 2014 LJUN tidak terpisah dari naskah soal, LJUN berada di halaman terakhir dan harus disobek atau dipotong agar terpisah dari naskah soal UN secara hati-hati agar tidak rusak. Bagusnya LJUN dipotong oleh siswa atau guru pengawas setelah naskah soal selesai dibagikan. Mungkin karena tidak fokus (belum minum Aqua? ^_^) atau karena terburu-buru, bisa saja terjadi pengawas memotong semua LJUN dari setiap naskah soal UN, kemudian LJUN tersebut dibagikan terlebih dahulu tanpa dipasangkan dengan naskah soal UN aslinya sebelum dipotong, kemudian naskah soal UN baru dibagikan setelahnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan tertukarnya pasangan LJUN dan naskah soal dengan barcode yang sama (LJUN dan paket soalnya). Nah, jika barcode pada LJUN berbeda dengan barcode pada naskah soal UN (misal barcode LJUN 12345678 sedangkan barcode naskah soal yang dikerjakan 31245678) maka pada saat pemeriksaan jawaban UN oleh komputer, jawaban pada LJUN berbarcode 12345678 tersebut akan dicocokkan dengan kunci jawaban menggunakan kunci paket soal berbarcode 12345678 yang berbeda dengan yang sesungguhnya dikerjakan oleh siswa yaitu 31245678. Waduh, super gawat kan akibatnya.

Apa mungkin terjadi kekeliruan seperti itu? Mungkin dan sangat mungkin. Apalagi jika jumlah paket soal seperti tahun 2014 yang berjumlah 20. Bayangkan 20 paket soal berbeda dengan barcode yang tak mudah dibedakan oleh mata pengawas. Nah lho. Parahnya lagi naskah soal UN tahun 2014 ada yang belum disusun sesuai nomor halaman atau ada juga nomor ganda untuk beberapa soal. Tambah puyeng kan pala pengawas?

Untunglah teknis pelaksanaan UN tahun ini nampaknya lebih disederhanakan dan diperbaiki. hal itu terlihat dari jumlah paket soal yang lebih sedikit, kalau tidak salah lihat tadi 5 paket, besok dicek lagi dan kalau ternyata keliru akan saya update tulisan ini. Kualitas kertas naskal soal UN juga lebih berkualitas, kertas yang digunakan lebih tebal jadi tidak mudah kusut. Perakitan naskah soal sudah bagus semua halaman soal berikut LJUN tertata  rapi sesuai urutan nomor halaman. Pengawas cukup terbantu dan tidak direpotkan dengan penyusunan ulang halaman soal.

Pada kolom isian LJUN terdapat satu hal yang agak membingungkan siswa yaitu pada kolom Nama Sekolah tertera tuliisan S/M/PK. Beberapa siswa peserta UN di ruang ujian yang diawas oleh penulis (tanpa bertanya sebelumnya) kedapatan malah mengisi kolom tersebut dengan namanya sendiri. Tentu saja pengawas segera meminta siswa untuk memperbaiki kekeliruan tersebut yaitu seharusnya diisi dengan nama sekolah tempat mereka belajar. Mengenai arti dari S/M/PK ternyata S untuk SMP, M untuk MTs, dan PK untu Paket (Kejar Paket B).

Alhamdulillah hari ini penulis telah menyelesaikan tugas sebagai pengawas Ujian Nasional (UN) jenjang SMP tahun 2015 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Masih tersisa 3 hari kedepan, semoga tidak ada kendala yang berarti, tetaap lancar dan sukses sampai akhir. Aamiin....

0 komentar: