Social Icons

http://twitter.com/eui5_kurniawati

Sabtu, Mei 02, 2015

Memperingati Hardiknas: Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

Para pengguna internet hari ini tentu akan melihat ada tampilan lain dalam logo Google seperti tampak pada gambar berikut;


Itulah salah satu bentuk penghormatan yang diberikan oleh Google Indonesia untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia khususnya yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan? 

Upacara Hardiknas yang diselenggarakan setiap tanggal 2 Mei menjadi salah satu cara untuk me-refresh memori kita untuk mengenang dan meneladani perjuangan Ki Hajar Dewantara di masa lampau. Namun diakui atau tidak peringatan Hardiknas kini lebih sebagai kegiatan rutinitas tahunan yang bersifat seremonial. Mengapa demikian?

Dulu saat penulis masih duduk di bangku dasar dan menengah, upacara apapun termasuk peringatan Hardiknas, masih jarang ditemukan siswa yang jongkok disaat rangkaian pokok upacara berlangsung. Lain sekali dengan siswa jaman masa kini. Jongkok dan ngobrol menjadi pemandangan biasa yang saya temukan. Pembina upacara menyampaikan amanat yaitu berupa pembacaan naskah pidato Mendikbud RI namun mayoritas peserta upacara (siswa dan termasuk Bapak dan Ibu Guru) asyik ngobrol kiri-kanan. Alhasil, makna dari peringatan Hardiknas itu sendiri jauh panggang dari api. Miris bukan?

Jika saja peserta upacara mau menyimak isi pidato Mendikbud RI tentang "Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila", tentu dapat mendengar secara jelas pesan yang disampaikan bahwa pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa, pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Karenanya semua elemen masyarakat harus terlibat dalam mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yaitu gerakan yang melibatkan  seluruh elemen bangsa.

Yang paling penting untuk diresapi dari isi pidato tersebut adalah pentingya "rasa memiliki" dan "rasa peduli" dari setiap elemen masyarakat sehingga lebih peduli dengan apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Betapa pentingnya rasa memiliki atas problematika pendidikan agar semua bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika itu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Mendikbud.

Pemandangan yang membuat miris pada saat upacara dapat dijadikan sebagai contoh kecil mengenai betapa rendahnya rasa memiliki dan rasa peduli peserta upacara (dalam hal ini siswa dan guru) terhadap prpblematika pendidikan. Tidak merasa penting untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan upacara, tidak merasa penting untuk menyimak pidato pembina upacara, tidak perduli dengan teguran guru, tidak merasa malu sebagai guru yang mestinya menjadi suri tauladan termasuk sikap dalam mengikuti upacara, dan tidak perduli dengan pandangan masyarakat. Bukankah hal tersebut realita yang kini marak dan menjadi salah satu penyebab bertambahnya problematika pendidikan di Indonesia?

Seandainya Ki Hajar Dewantara melihat bagaimana perilaku siswa dan guru kini, mungkin Beliau akan menangis. Mungkin.

0 komentar: